Dengan menyisakan satu-satunya calon, yaitu ARB sendiri, Golkar diprediksi dilanda konflik yang tidak berujung. Demikian dikatakan analis politik, Ray Rangkuti, beberapa saat lalu (Selasa, 2/12).
Menurut dia, Golkar adalah partai besar dengan watak kemajukan yang kuat. Karena itu, pengelolaan secara ekslusif bertentangan dengan kebutuhan akan pengelolaan partai secara demokratis partisipatoris.
"Pengelolaan yang cenderung ekslusif hanya akan menimbulkan konflik tidak berujung. Menjadikan ARB satu-satunya caketum adalah pengkerdilan terhadap partai sekaligus pengkeroposan semangat kompetisi yang adil," ujar Ray melalui pesan elektronik.
Selain tidak demokratis, lanjut Ray, pemilihan secara aklamasi jelas tidak demokratis dan juga mengingkari kemajemukan Golkar. Aklamasi itu menepikan kompetisi dan makna Munas. Apalagi pilihan aklamasi dilakukan dengan mobilisasi.
"Cara-cara aklamasi karena mobilisasi hanya layak dan mungkin hidup di era otoritarianisme," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: