Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), As'ad Said Ali, kepada
RMOL, usai peluncuran buku karyanya yang terbaru berjudul "Al Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya", di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat malam (26/9).
Beberapa kali Anis Matta menyatakan, pembelahan Koalisi Merah Putih dan Koalisi Jokowi-JK adalah pembelahan Konservatisme dan Liberalisme. Koalisi Merah Putih, menurut Anis, adalah kelompok dengan pandangan konservatif. Sementara Koalisi Jokowi-JK adalah kelompok yang berpandangan liberal.
Pandangan itu menurut As'ad tidak benar. Dia mencontohkan di Koalisi Jokowi-JK ada PDI Perjuangan yang merupakan kelompok nasionalis, namun bisa bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang cenderung konservatif.
Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara ini mengatakan, polarisasi seperti itu akan berlangsung temporer dan tidak lama lagi akan hilang.
"Desember ini (polarisasi) sudah selesai," sebutnya.
As'ad menilai, sejauh ini semua pihak di masing-masing kubu selalu membicarakan kepentingan bangsa. Dalam hal ini, Partai Golkar yang berada di Koalisi Merah Putih pun masih bisa berubah posisi dengan masuk ke dalam pemerintahan Jokowi-JK.
"Golkar itu tidak mau di luar pemerintahan terus kan. Indikasinya sudah kelihatan," ucapnya.
Dia menyangkal ada pembelahan-pembelahan ideologi dalam peta politik setelah Pilpres ini. Dia mencontohkan bagaimana PKS yang berlatar ikhwanul muslimin sangat berbeda dengan Gerindra dan Golkar namun bisa menyatu dalam koalisi politik.
"Tidak ada ideologilah. Bahkan itu koalisi yang tidak punya ideologi, hanya kepentingan yang ada dan tidak lebih dari itu. Tidak ada di antara mereka yang ideologi sentris, mungkin kecuali PKS yang agak ideologis," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: