"Sekarang saya kira JK tidak akan dominan. Namun tarik menarik pasti ada," kata peneliti komunikasi media politik Universitas Indonesia, Dr Irwansyah kepada redaksi, Kamis (11/9).
Irwansyah beralasan, Jokowi dan JK adalah berlatar belakang sama, pengusaha. Ini yang membuat mereka akan saling mengisi dan mempengaruhi.
"Mereka sama-sama berprinsip, kalau bisa murah kenapa harus mahal," ujarnya.
Tarik menarik terjadi antara Jokowi dan JK, sambung Irwansyah, karena Jokowi tetap ingin dicitrakan dekat dengan rakyat. Jokowi akan meminta JK apabila ingin mengambil kebijakatan yang tidak populis, seperti rencana menaikkan harga BBM.
Di saat yang sama, JK ingin tetap Jokowi yang memiliki hak prerogatif 'mengamankan' orangnya dia di kabinet.
"Dalam kondisi ini, akan ada tarik menari. Tapi akan tetap berjalan," tandas Irwansyah.
[rus]