"Pemilihan pun berlangsung oleh DPRD yang diwarnai intimidasi, di mana rumah anggota DPRD sebelum pemilihan dikepung oleh preman, hingga akhirnya terpilih Djoko Munandar yang berpasangan dengan Ratu Atut," tutur pengamat politik dari Universitas Mathlaul Anwar Ali Nurdin dalam diskusi 'Pemerintahan Yang Bersih Sesuai 4 Pilar' di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Senin (21/10).
Kemudian periode tahun 2005 hingga sekarang, kepemimpinan Provinsi Banten beralih ke tangan Ratu Atut. Menurut Ali, meski Ratu Atut menyandang jabatan gubernur, tetap yang menjadi gubernur jenderal adalah sang ayah, Tubagus Hasan. Ia yang mengendalikan seluruh kebijakan di Banten sampai meninggal pada Desember 2012 lalu.
"Tapi mulai 2009 pengendalian Banten diserahkan ke Tubagus Chaery Wardhana (Wawan)," imbuhnya.
Sejak dipegang Ratu Atut itulah, Ali melanjutkan, rotasi jabatan di lingkungan Pemprov Banten jadi hal biasa. Kapan pun bisa terjadi terutama bagi pejabat yang dianggap tidak loyal kepada Ratu Atut. Termasuk menyangkut proyek-proyek Pemprov, semuanya dikendalikan keluarga Atut dengan dukungan kekuatan premanisme.
"Jadi tidak terjadi konsolidasi kelas menengah di Banten," pungkas putra asli Pandeglang itu.
Seperti diketahui keturunan Haji Hasan tersebar di sejumlah jabatan publik mulai dari Gubernur Ratu Atut Chosiyah, sejumlah anggota DPRD, DPD, bupati dan wali kota di kawasan Banten. Selain Atut, di antaranya adalah Wali Kota Serang Haerul Jaman (adik tiri Atut), Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany (adik ipar), Wakil Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah (adik kandung), dan Wakil Ketua DPRD Kota Serang Adde Rosie Chairunnisa (menantu).
[wid]
BERITA TERKAIT: