Intruksi tersebut yakni memerintahkan Kapolri tetap jalankan tugas untuk keamanan dan ketertiban masyarakat sebagaimana tugas Polri, polisi terus bertugas dan bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mengungkap motif penembakan, dan semua pihak menunggu penjelasan dari kepolisian.
Pengamat politik AS Hikam menilai, intsruksi SBY yang disampaikan Jurubicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha itu sebagai instruksi yang sangat lembek. Menurutnya, instruksi yang luar biasa enteng itu akan membuat para teroris semakin merasa hebat dan gagah.
"Kalau cuma itu "instruksi" Presiden, maka alangkah lembek dan tidak bersemangatnya! Bukankah aksi penembakan terhadap aparat Polri yang berkali-kali terjadi itu sebuah indikator tentang gawatnya ancaman keamanan bagi masyarakat dan bisa menciptakan krisis terhadap keamanan negara yang sangat serius?" kata dia di laman
facebook-nya, Rabu (11/9).
Hikam tidak percaya bahwa instruksi kepada Kapolri yang sepele dan tidak ada greget sama sekali itu benar-benar datang dari Presiden SBY. Dia curiga redaksi instruksi dibuat sendiri oleh Julian dan bukan kutipan langsung dari Presiden.
"Tidak masuk akal saya jika Presiden hanya menginstruksikan demikian," imbuhnya.
Instruksi soal kerjasama dengan BIN dan TNI, menurut Hikam, juga hanya pengulangan yang tidak perlu karena sudah dilakukan terus.
"Sekali lagi saya sama sekali tak yakin bahwa cuma begitu saja instruksi Presiden SBY menyikapi kasus penembakan Polri oleh para teroris. Sebab kalau itu benar, kita sebagai bangsa wajib hukumnya untuk miris. Sangat tidak logis saat para anggota Polri ditembak mati secara acak di jalan-jalan, cuma disikapi
business as usual seakan-akan bukan masalah penting oleh Kepala Negara," demikian Hikam.
[dem]
BERITA TERKAIT: