Mengutip pendapat DR Bambang Kusumanto bahwa rakyat di China, Jepang, India, dan Brazil selalu ingin Dolar naik biar ekspornya meningkat dan rakyatnya tambah sejahtera. Padahal impor bahan bakunya cukup besar, tapi sistem mereka bisa menciptakan '
added value' yang besar sehingga
gain cadangan devisanya besar. Inilah model ekonomi dengan "kepribadian" ekspor
oriented yang pro rakyat.
Di Indonesia, model ekonominya tidak jelas alias banci dan tidak berkarakter kuat. Dibilang ekspor
oriented tapi ketika nilai tukar berubah, sisi impornya kedodoran.
Padahal pelemahan nilai tukar uang sendiri terhadap mata uang asing adalah salah satu kiat yang dipakai dalam perang dagang sepanjang sejarah.
Tampak SBY muram hadapi penurunan nilai rupiah. Dibuatlah tabel daftar langkah-langkah yabg akan ditempuh, untuk atasi keadaan. Sekilas solusi yg akan dilakukan butuh waktu panjang dibanding kecepatan eskalasi masalah yang sedang dihadapi. Ibarat sedang hadapi kebakaran, mobil pemadamnya masih perlu di-service dulu,dan lain-lain. Di luar situasi ini ada sekelompok elit yang "cemas cemas senang" dengan gonjang ganjing nilai Dolar ini. Mereka berselancar di atas ombak.
Salamuddin Daeng menulis: "ambruknya rupiah berarti berlipatgandanya nilai kekayaan mereka. Jika rupiah menembus Rp 15.000 per USD maka berarti kekayaan mereka telah berlipat dua, menambah sumber dana partai, dana menyogok rakyat dalam pemilu 2014".
Daeng menduga banyak uang haram yang diperoleh dari hasil korupsi (korupsi APBN saja sekitar 30-40 persen),
money laundry, setoran para mafia/sindikat dan lain-lain yang bersumber dari ekonomi
back office yang digunakan untuk kegiatan spekulasi, disimpan di lemari besi dalam bentuk USD.
Kita lihat saja seampuh apakah resep rezim ini hadapi situasi ini ?
*
penulis merupakan direktur eksekutif Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta ( IEPSH)
BERITA TERKAIT: