Ramadhan memiliki keistimewaan. Dalam hadits jelas disebutkan, awali puasa dengan rukyah (melihat hilal) dan mengakhirnya dengan rukyah.
Begitu disampaikan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Raihan Iskandar, kepada
Rakyat Merdeka Online, Kamis (15/8).
Dari hadits tersebut, kata anggota Komisi VIII DPR RI itu, muncullah ijtihad bahwa penetapan dilakukan dengan kesepakatan.
"Kata dalam haditsnya shuummu, itu artinya buat jama. Artinya dibuat kesepakatan," imbuhnya.
Raihan mengatakan perintah nabi sudah jelas bahwa penetapan awal Ramadhan dan Syawal dilakukan dengan melihat bulan alias rukyah. Hal ini yang menjadi kekhususan Ramadhan, beda dengan bulan lainnya. Penetapan awal dan akhir bulan lainnya tidak masalah menggunakan hisab, tapi untuk Ramadhan harus dengan rukyah.
Dia juga membantah pernyataan Denny JA yang menyebut isbat menunjukkan kebodohan umat Islam. Zaman Rasulullah, para sahabat sudah bisa menetapkan kapan awal dan akhir suatu bulan dalam kalender tahunan jatuh. Tapi, sekali lagi dia tegaskan, Ramadhan merupakan bulan beda, yang memiliki kekhususan.
"Zaman Rasul sahabat sudah menentukan kapan awal dan akhir bulan, mereka sudah mengerti hitung-hitungan. Tapi untuk bulan Ramadhan ada keistimewaan, ada rukyat itu," kata Raihan.
"Ini bukan menafikan hisab, bisa saja dilakukan dengan hisab. Tapi untuk Ramadhan perlu rukyat. Kecuali Pak Deni punya hadist yang lain," sambung dia.
[dem]
BERITA TERKAIT: