Akan tetapi saat ini sudah tidak bisa dikatakan bahwa ini pesta rakyat, dikarenakan masyarakat sudah tercekik dengan naiknya harga bahan pokok. Lagi-lagi pemerintah mengulang kesalahan yang sama dengan tidak mencegah, melainkan hanya mengobati saja.
Komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat seperti cabe, bawang merah, daging sapi, telur ayam ras, dan daging ayam meroket tinggi bahkan melebihi harga tertinggi tahun lalu.
"Kami menilai beberapa cara yang sepertinya instan seperti pasar murah dan operasi pasar hanya sebuah bentuk pencitraan, bahkan masih banyak para tengkulak yang bermain," ujar Sekjend Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia, Dhika, Senin (22/7).
Ia pun mempertanyakan mengapa pemerintah bisa melakukan kesalahan dalam memperkirakan jumlah pasokan daging nasional? Sehingga pemerintah kehabisan stok. Menurutnya selama ini pemerintah hanya mencari solusi instan dengan import daging besar-besaran. Itupun kata dia seperti keterangan tertulisnya, bukan menjadi solusi, karena MUI pun meragukan sebagian daging impor tidak halal dan akan sangat merugikan masyarakat.
Oleh karena itu kata Dhika, pihaknya terus menuntut pertanggung jawaban pemerintas atas sembako yang mahal itu. Besok (Selasa, 23/7), Lisuma dan ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Gerakan Sembako Mahal (GSM) akan membuang 1.000 panci bekas de kantor Kementrian Perdagangan yang dipimpin Gita Wirjawan.
"Hari ini kami terus mengumpulkan panci penggorengan bekas dari masyarakat, dan Alhamdulillah kami mendapat dukungan cukup banyak dari masyarakat karena sumbangan-sumbangan panci dan alat dapur bekas berdatangan. Dukungan masyarakat ini menandakan Mentri Perdagangan gagal," tandasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: