Mobil kebanggaan warga Solo itu tengah menunggu untuk bisa menjalani uji emisi kedua setelah pada uji sebelumnya yang dilakukan akhir Februari lalu, dinyatakan tidak lolos.
Budi Martono yang juga bagian dari tim teknis mobil Esemka menyatakan, pada kesempatan kali ini pihaknya sudah melakukan serangkaian perbaikan. Salah satunya adalah dengan mengurangi bobot mobil yang sebelumnya 1,85 ton menjadi 1,2 ton. Tidak itu saja, kata Budi, perbaikan juga dilakukan mulai dari
intake manifold,
exhaust manifold, ruang bakar, sampai
resetting accu catalisator.
Seberapa besar peluang mobil esemka bisa lolos uji emisi kali ini?
"Saya belum tahu apakah esemka masuk Euro (
European Emission Standards) 1 atau 2. Makin angkanya besar itu emisi makin rendah. Sekarang coba ditanyakan apakah sudah dilengkapi katalis konverter, kalau tidak ada ya
ora iso lolos kecuali
record-nya dimainkan. Misalnya, standarnya harus Euro satu tapi laporannya di-
upgrade jadi Euro dua. Pengecekannya harus kita lihat dulu," ujar pengamat otomotif, Bambang Tri Sasongko panjang lebar saat berbincang dengan
Rakyat Merdeka Online, Rabu malam (30/5).
Ditanya lebih lanjut mengenai ini, Bambang enggan berkomentar jauh. Lebih dari itu, dirinya justru mempertanyakan penurunan bobot mobil Esemka hingga mencapai 650 kilogram.
"Pengurangannya sangat signifikan, kan aneh sebuah rancang bangun tiba-tiba dalam beberapa waktu singkat kok bisa turun dari 1,85 ton menjadi 1,2 ton. Jangan-jangan tanpa jok, stir, mesinnya dicopot. Itu pengurangannya tidak masuk akal berarti salah desain," ujarnya bernada heran.
Pria bersapaan Ongky ini menjelaskan, untuk mendesain mobil riilnya membutuhkan waktu lima tahun mulai dari perencanaan, uji tabrakan (crash test), uji kemiringan sampai dengan prototipe. Itupun belum tentu laku dijual. Sehingga, menurutnya sangat aneh jika mobil Esemka mampu mengurangi bobotnya sedemikian dratis dalam hitungan bulan sejak uji emisi pertama.
Bahkan secara tegas ia yang sudah kurang lebih 25 tahun menggeluti dunia otomotif katakan hingga saat ini di sekolah menengah kejuruan manapun di Indonesia belum ada kurikulum desain mobil.
"Saya katakan tidak ada, yang ada belajar teknik otomotif. Apa itu kabulator, ban, gigi, transmisi," sambungnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: