Salah satunya, persiapan pembangunan stadion yang belum rapi. Seperti pembangunan Samara Arena, di Kota Samara yang mengalami keterlambatan. Hingga tiga bulan jelang pembukaan Piala Dunia, stadion berkapasitas 45 ribu kursi itu masih belum ditanami rumput.
Selain itu masalah fasilitas, Rusia juga mengalami ancaman terkait hubungannya dengan negera-negara peserta Piala Dunia. Pemerintah sejumlah negara peserta bahkan telah memboikot gelaran empat tahunan.
Boikot ini terkait dengan insiden racun kimia yang menyerang mantan mata-mata Rusia di Inggris, Sergei Skripal. Inggris, Australia, dan Islandia yang menjadi peserta Piala Dunia telah mengeluarkan boikot tersebut.
Sementara Qatar, sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022 juga terancam bakal batal jadi tuan rumah. Hal ini seiring merebaknya isu pembelian suara dan skandal terkait terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia.
"Hari ini penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2018 Rusia dan tahun 2022 Qatar terancam batal," jelas koordinator Masyarakat Sepakbola Indonesia, Sarman dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (28/3).
Menurutnya, Indonesia tidak boleh mendiamkan momentum ini hilang begitu saja. Indonesia yang berhasrat untuk menjadi tuan rumah, harus segera bergerak.
"Indonesia harus mengambil momentum tahun 2022 jadi tuan rumah. Dunia tentu menunggu peran Indonesia itu," jelasnya.
Sarman menilai, rakyat Indonesia akan mendukung segala upaya pemerintah untuk mengambil momentum tersebut.
"Apalagi putra terbaik Indonesia akan hadir sebagai peserta dan rakyat dunia mendukungnya," tukas Sarman.
[ian]