Langkah progresif ini digagas guna menjadikan penyelenggaraan ibadah haji sebagai panggung utama dalam merawat toleransi, merayakan kebinekaan, serta memperkuat gotong royong nasional.
Menurut Wamenhaj, kekayaan utama bangsa Indonesia terletak pada karakternya yang majemuk. Keberagaman tersebut sudah sepatutnya tecermin di seluruh lini kehidupan publik, tak terkecuali dalam penyelenggaraan haji. Semangat kemanusiaan dan persaudaraan dinilai melampaui batas-batas kelompok, sehingga pelayanan kepada jemaah terbuka untuk didukung oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
"Fokus kita adalah memastikan jemaah haji menjadi simbol toleransi bagi umat beragama. Nantinya, petugas-petugas haji dapat melibatkan saudara-saudara kita dari kalangan Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan sebagainya," ujar Wamenhaj di Manado, Jumat 30 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Wamenhaj memaparkan bahwa wujud toleransi yang sejati melampaui sekadar rasa saling menghormati di atas kertas. Toleransi harus mengejawantah melalui aksi nyata berupa kerja sama serta kontribusi aktif bersama dalam berbagai ruang kemasyarakatan.
Semangat kebersamaan ini relevan diterapkan dalam pelayanan haji, di mana kepedulian sosial dan nilai kemanusiaan mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan keyakinan. Menjadikan Sulawesi Utara sebagai model percontohan berkat tingginya indeks kerukunan umat beragama di wilayah tersebut, Wamenhaj telah menginstruksikan jajarannya untuk mulai merangkul kelompok lintas agama dalam menyukseskan pelayanan haji di daerah.
"Ini menjadi salah satu upaya menghadirkan simbol toleransi, tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di seluruh Indonesia," katanya.
Di sisi lain, gagasan ini juga mempertegas posisi ibadah haji sebagai bagian integral dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun haji merupakan ritual keagamaan umat Islam, esensi memberikan pelayanan terbaik kepada sesama manusia merupakan panggilan kemanusiaan universal yang bisa dirangkul oleh siapa saja.
Melalui langkah ini, Kemenhaj optimistis hubungan antarkelompok masyarakat akan semakin erat sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan bersama terhadap kualitas pelayanan publik. Pada akhirnya, keberagaman bukanlah batu sandungan, melainkan kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk terus bergandengan tangan demi kepentingan bersama.
Melalui terobosan ini, Kemenhaj berkomitmen menghadirkan standar penyelenggaraan haji yang tidak hanya unggul dari sisi kualitas ibadah, tetapi juga kokoh memancarkan nilai persatuan, kerukunan, dan gotong royong sebagai identitas luhur bangsa Indonesia.
BERITA TERKAIT: