Dua Aspek Etika AI yang Kerap Diabaikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Selasa, 13 Oktober 2026, 02:15 WIB
Dua Aspek Etika AI yang Kerap Diabaikan
Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang besar bagi dunia pendidikan. Teknologi ini dapat membantu mahasiswa mencari referensi, menganalisis data, hingga mengembangkan aplikasi. 

Namun, di tengah kemudahan yang ditawarkan, penggunaannya perlu disertai pemahaman etika. Hal tersebut disampaikan Hafidlotul Fatimah Ahmad, SKom, MKom, dosen Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University dalam program Perspektif IPB TV.

Menurut Fatimah, ada dua aspek etika yang kerap diabaikan, yakni human oversight (pengawasan manusia) dan data privacy (privasi data). 

Ia menjabarkan, AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan data yang telah dipelajari. Karena itu, hasilnya tidak selalu benar dan perlu diperiksa kembali. 

“Tidak bisa kita menjadikan AI ini satu-satunya sumber kebenaran,” ucap fatimah dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak langsung menerima jawaban AI, termasuk referensi dan tautan artikel ilmiah yang dihasilkan. Tautan tersebut bisa saja tidak valid atau mengarah pada sumber yang sebenarnya tidak ada.

Selain memverifikasi informasi, pengguna perlu menjaga kerahasiaan data. Data sensitif, seperti nomor induk kependudukan (NIK), maupun data penelitian yang bersifat rahasia tidak boleh sembarangan dimasukkan ke layanan AI.

Pengguna juga perlu memahami pengaturan privasi setiap layanan. Beberapa layanan menyediakan opsi agar percakapan tidak digunakan sebagai data pelatihan, tetapi pengaturan tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu.

AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Nalar

Dalam pendidikan, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, melakukan brainstorming, dan membuat latihan soal. Namun, Fatimah menegaskan, menyalin hasil AI tanpa pemeriksaan dan mengumpulkannya sebagai karya sendiri dapat melanggar integritas akademik.

Ia menilai, penggunaan AI tidak serta-merta melemahkan kemampuan manusia. Mahasiswa justru perlu meningkatkan keterampilan analisis agar mampu mengerjakan tugas yang membutuhkan penalaran, sementara pekerjaan berulang dapat dibantu oleh teknologi.

Dia menyarankan mahasiswa untuk tetap memegang kendali, menjaga privasi data, dan terus meningkatkan keterampilan mengikuti perkembangan teknologi. 

“Pesan saya simpel, ingat bahwa tugas yang teman-teman kumpulkan, itu membawa nama teman-teman, bukan nama AI,” tegasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA