Kabar meninggalnya John beredar melalui sejumlah grup WhatsApp. Jhon disebut mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM Yogyakarta.
Ucapan belasungkawa juga datang dari akun Instagram Kagama Channel.
“Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya Bapak John Tobing, Alumni Fakultas Filsafat UGM 1986. Semoga amal bakti beliau diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan," tulis akun tersebut, dikutip Rabu, 25 Februari 2026.
Pria bernama lengkap Johnson Marhasak Lumbantobing itu dikenang luas sebagai kreator himne perjuangan mahasiswa era reformasi 1998.
"Darah Juang" menggema saat gelombang demonstrasi memuncak, termasuk ketika mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR pada Mei 1998, dan terus dinyanyikan dalam berbagai momentum gerakan sipil setelahnya.
Mengutip
RMOLJateng, John pernah bercerita lagu tersebut lahir dari kegelisahannya sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1986. Melodi awal dirampungkan sekitar 1991-1992 di sebuah rumah kontrakan kawasan Gejayan, Yogyakarta.
Ia sempat tak menyangka karyanya akan menjadi nyanyian kolektif gerakan reformasi. Bahkan, pengakuannya, ia baru mengetahui lagu itu dinyanyikan secara massif beberapa tahun kemudian.
Lagu "Darah Juang" lahir dari keresahan atas ketimpangan sosial dan situasi bangsa yang menurutnya “dibodohi oleh bangsanya sendiri”.
Dalam penyusunannya, ia bekerja bersama Dadang Juliantara untuk mematangkan lirik. Sejumlah rekan aktivis turut memberikan masukan terkait pilihan kata hingga judul lagu.
Salah satu penggalan lirik yang kuat berbunyi, “Tuhan, relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat”, yang kemudian menjadi simbol semangat kolektif perlawanan. Kini, pencipta Darah Juang itu telah berpulang.
BERITA TERKAIT: