Begitu tegas Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (Masindo), Dimas Syailendra Ranadireksa menanggapi data bahwa penolakan terhadap produk tembakau alternatif justru meningkatkan angka penjualan rokok di Amerika Serikat pada 2020 lalu.
Berdasarkan laporan Komisi Perdagangan Federal, penjualan rokok mencapai 203,7 miliar batang pada 2020. Meningkat 0,8 miliar batang dibandingkan pada 2019 lalu. Angka ini merupakan peningkatan pertama dalam penjualan rokok dalam 20 tahun terakhir.
Dimas Syailendra mengurai bahwa prevalensi merokok di Indonesia sudah menyentuh 65 juta jiwa atau menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
“Kampanye negatif hanya akan semakin menjauhkan perokok dewasa Indonesia dari produk tembakau alternatif, yang bisa menjadi solusi komplementer menekan prevalensi merokok di negara ini,†ujar Dimas kepada wartawan, Kamis (3/3).
Dimas berharap, perokok dewasa bisa beralih pada produk tembakau alternatif yang memiliki risiko lebih rendah dibanding rokok. Di mana rokok bisa menyebabkan berbagai macam penyakit seperti kanker paru-paru, kanker kerongkongan, penyakit jantung koroner, hingga stroke.
“Produk tembakau alternatif memiliki manfaat yang besar demi mendorong perbaikan kesehatan publik. Pemerintah harus aktif dalam menekan kampanye negatif terhadap produk tembakau alternatif dengan menggandeng dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait demi terciptanya peralihan perokok dewasa ke produk yang lebih rendah risiko ini,†tutup Dimas.