Konferensi Waligereja Indonesia Ikuti Anjuran Beribadah Di Rumah, Tapi Ada Beberapa Tantangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-satryo-1'>AHMAD SATRYO</a>
LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Sabtu, 11 April 2020, 14:19 WIB
Konferensi Waligereja Indonesia Ikuti Anjuran Beribadah Di Rumah, Tapi Ada Beberapa Tantangan
Romo Fredy Rante Taruk (tengah)/Net
rmol news logo Anjuran pemerintah untuk penanganan virus corona baru (Covid-19), yakni untuk beribadah di rumah, diikuti oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) atau Yayasan Karina Charitas Indonesia.

Direktur Charitas Indonesia (Yayasan Karina Charitas Indonesia/KWI), Romo Fredy Rante Taruk mengatakan, pihaknya telah mengimbau umat Katolik untuk menaati anjuran ini lewat sebuah surat.

"Gereja Katolik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia menegaskan, mengikuti anjuran pemerintah dalam membatasi kegiatan ibadah di gereja dengan mengeluarkan surat edaran kebijakan, dan imbauan dari masing-masing keuskupan," kata Romo Fredy saat jumpa pers, di Gedung Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (11/4).

Anjuran ini, diakui Romo Fredy, telah diikuti oleh kesadaran umatnya dengan tidak keluar rumah. Sebab sejak awal pekan ini kata Romo, perayaan Pra Paskah sudah mukai dilakukan dari rumah masing-masing jemaat. Yakni dengan cara, mengikuti acara perayaan gereja via online streaming di beberapa kanal yang disediakan.

Kendati begitu, KWI mendapatkan sejumlah tantangan dari beberapa umatnya yang merasa kurang afdol menjalani ibadah dari rumah.

"Namun dalam pelaksanaannya ada tantangan spiritual dan teknis yang harus kami hadapi. Sebagian umat merasa kurang pas, merasa tidak sempurna, dan merasa sedih tidak dapat berkumpul di gereja, berdoa, bernyanyi dan merayakan kemenangan iman," ungkapnya.

"Masih ada kesulitan bagi umat yang sulit dengan sinyal internet, atau yang tidak memiliki fasilitas untuk mengikuti perayaan secara online," sambungnya.

Akan tetapi lambat laun, diakui Romo Fredy, umat Katolik mengerti tentang makna beribadah di rumah dalam suasana pandemi Covid-19. Meskipun, tidak bisa mengikuti perayaan Pra Paskah secara bersama via video streaming secara online.

Adapun beberapa tantangan lain yang dihadapi KWI ialah stigma yang muncul terhadap orang-orang yang masuk kategori dalam pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pangawasan (PDP).

"Sebagian masyarakat masih mempunyai stigma atas orang yang menjadi ODP maupun PDP, sehingga merasa dikucilkan atau dicap kotor oleh masyarakat," tutur Romo Fredy.

Oleh karena itu, pihak KWI, dalam hal ini Yayasan Charitas Indonesia, mengimbau kepada umat Katolik untuk tetap memperlakukan orang-orang dengan status ODP dan PDP dengan baik, dengan penuh kasih sebagai sesama, dan menolong mereka memberikan dukungan agar bisa sembuh.

"Cardinal Luis Antonio Tagle presiden Charitas internationalist menekankan pada masa ini, agar pandemi virus ini yang dirasakan oleh umat di dunia dan kita semua mengakui situasi darurat ini, Seharusnya menggugah kita semua untuk meresponnya," terang Romo Fredy.

"Maka Paskah kali ini mendorong dan membangkitkan kepedulian, kasih sayang dan cinta satu sama lain, terutama bagi yang membutuhkan dan mengatasi kecemasan bersama dan saling memberi dukungan dan harapan," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA