Dalam 10 bulan ini, program Ok Otrip cuma diminati 123 dari target 2.000 angkutan umum. Begitu juga program Ok Oce daÂlam penerapannya hanya sebatas kegiatan seminar.
Peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, dua proÂgram bertajuk OK yang digagas Sandiaga Uno memang tidak ada manfaatnya. Program ini sangat bagus dipresentasikan, tapi jelek dalam penerapannya.
"Ini karena program OK banyak bohongnya. Ok Oce dijanjikan modal, tapi ternyata bunganya tinggi. OK Otrip kesannya keren. Padahal, lebih bagus saat Ahok mau menginteÂgrasikan operasionalisasi angkuÂtan umum di bawah PT TransJaÂkarta. Jadi semua tarifnya rata Rp 3.500," jelasnya.
Karyono menyarankan agar Anies menyetop semua program bertajuk OK itu. Kemudian melanjutkan program dari peÂmerintah sebelumnya.
"Untuk membina UMKM seÂbaiknya diterapkan sistem bagi hasil. Kemudian, penghasilan dari program itu dijadikan dana bergulir," tegasnya.
Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong WarÂsono juga berpendapat sama. Gubernur Anies sebaiknya menghentikan saja program bertajuk OK itu. Program itu tidak aplikatif. Hanya canggih di teori, tapi miskin ide dalam penerapannya.
Gembong mencontohkan, Ok Otrip atau program integrasi angkutan umum ternyata gaÂgal. Sampai sekarang baru 123 angkutan umum bergabung dari target 2.000. Program itu diniÂlai tidak menguntungkan bagi pemilik angkutan umum.
Begitu juga, lanjutnya, proÂgram Ok Oce. Saat kampanye Pilgub lalu, warga dijanjikan mendapatkan modal. Namun, dalam kenyataannya warga jusÂtru diarahkan untuk melakukan pinjaman ke perbankan dengan suku bunga tinggi.
Diungkapkan Gembong, rekaÂnnya di DPRD bahkan menyebut program OK Oce ini cuma proÂgram cuap-cuap. Karena isinya cuma pelatihan secara lisan tanpa praktik.
"Program OK itu melekat dengan Sandi, bukan Anies. Jadi, sebaiknya Anies fokus dengan program yang digagasnya dalam kampanye. Seperti rumah denÂgan uang muka alias DP (
down payment) 0 Rupiah," tegasnya.
Ketua Fraksi Nasdem Bestari Barus mengatakan, program Ok Oce menjadi menarik karena awalnya warga sebagai pemilih dijanjikan modal untuk menjadi enterpreneur. Kenyataannya, saat Anies-Sandi menjabat proÂgram ini hanya pelatihan kepada warga dan tidak memberikan bantuan modal.
"Orang dididik untuk jadi enterpreneurship. Tapi kalau akses modalnya tidak diberikan, ini akan sulit," ujarnya.
Sebelumnya Sandiaga Uno mengatakan, program Ok Otrip terkendala kesepakatan rupiah per kilometer. Pihak operator dan Pemprov DKI Jakarta belum menemui kesepakatan terkait tarif rupiah per kilometer.
Terkait program Ok Oce, lanÂjut Sandiaga, dari awal tidak diÂgunakan untuk memberi modal bagi warga. Pemodalan bagi peserta Ok Oce akan dikerjasaÂmakan dengan lembaga keuanÂgan terkait.
"Ok Oce adalah gerakan berbaur program
policy mix yang diluncurkan oleh kemiÂtraan pemerintah dan elemen masyarakat. Kita dari awal sekali menyatakan bahwa PemÂprov tidak akan memberikan pemodalan," katanya. ***
BERITA TERKAIT: