Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memang belum memiliki data resmi jumlah balita yang mengungsi. Data BNPB hanya mencatat jumlah pengungsi ada sebanyak 387.067 jiwa.
Namun demikian, Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa ada sebanyak 1.991 balita yang tercatat ikut mengungsi di Kabupaten Lombok Utara.
“Di Kabupaten Lombok Utara terdapat 1.991 jiwa balita berusia nol sampai lima tahun dan 2.641 jiwa anak-anak berusia enam sampai sebelas tahun,†jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (11/8).
Kepada pemberi bantuan, Sutopo mengingatkan agar bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak dilakukan sembarangan di pengungsian. Khususnya, pemberian bantuan susu formula.
Sutopo meminta kepada para ibu untuk terus menyusui bayinya. Sebab air susu ibu merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi.
“Menyusui dalam kondisi darurat harus terus dilakukan oleh ibu kepada balitanya. Tidak bisa digantikan dengan susu formula,†jelasnya.
Apalagi, sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan lainnya sangat terbatas di pengungsian masih terbatas.
“Bahkan pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi, dan kematian bayi,†sambung Sutopo.
Sutopo menurturkan bahwa dalam beberapa pengalaman saat terjadi bencana, apalagi skala bencananya besar yang menyebabkan banyak pengungsi pada saat tanggap darurat bencana, susu formula dan susu bubuk adalah bantuan umum diberikan dalam keadaan darurat.
“Sayangnya, produk-produk tersebut seringkali dibagikan tanpa kontrol yang baik dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih harus disusui. Akibatnya, kasus-kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu,†tukasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: