Model naturalisasi ala GuÂbernur DKI Jakarta Anies BasÂwedan sepertinya sudah diawali pada perbaikan jalan di kawasan Kampung Berlan, Kelurahan Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur.
Seperti diketahui, jalan di Kampung Berlan ambrol pada Selasa (13/2/18) pascabanjir yang melanda sebagian besar wilayah Ibu Kota pekan lalu. Selain ambrol, sebagian jalan juga retak dengan lebih dari 30 cm. Penyebabnya adalah kekuatan tanah di kawasan ini yang semakin berkurang dan pengerukan di sungai Ciliwung yang letaknya berdampingan dengan jalan ini.
Anies mengatakan, perbaikan dinding sungai akan memakai batu bronjong yang memiliki keÂtahanan lebih baik dibanding batu yang digunakan sebelumnya. SetÂelah perbaikan selesai, kendaraan yang melintas akan dibatasi.
"Fase ini adalah penyelamaÂtan dulu, bagaimana kita bisa mengembalikan kemiringan. Kemudian baru membangun jalannya. Ini yang arus dipastiÂkan adalah kendaraan yang meÂlewati bebannya terukur. Jangan terlalu berat," terang Anies.
Dengan memakai batu bronÂjong, artinya kata Anies, peÂnataan ini dilakukan dengan konsep natural. Jika pembetonan membuat ekosistem air tidak bisa hidup, batu bronjong sebaÂliknya. Perkembangan biota air di sekitar sungai terjaga.
"Jika dipasang beton, biota air enggak bisa hidup di situ. Kalau dipasang batu bronjong, di situ bisa jadi sarang tumbuhnya biota air. Jadi inilah contoh pendekaÂtan natural yang dilakukan di tempat ini," ungkapnya.
Selain itu, konsep ini diklaim lebih murah. Namun, demikian, Anies tak mau buru-buru meÂnyimpulkan penataan bantaran sungai di Kampung Berlan adalah naturalisasi sungai yang pernah dikatakannya tempo hari. SeÂbab, konsep naturalisasi yang sebenarnya masih dirumuskan. "Penanggulangannya dengan pendekatan natural tidak dibuat beton tapi dengan batu bronjong yang saling mengikat batunya dan ada rongga-rongga," sebutnya.
Sejumlah dinas, seperti Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, hingga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah diterjunkan untuk mempercepat perbaikan ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal menegaskan, pembanguÂnan dengan bronjong lebih kuat dibandingkan dengan dinding turap. Padahal rencana penurapan sungai sudah disiapkan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSC). "Sementara penanggulangannya ini. Rencana BBWSCC katanya turap, tetapi kalau sudah kuat seperti ini buat apa lagi," ungkapnya.
Petugas Pemeliharaan BBWSCC Teguh Lesmana meÂnambahkan, pengerjaan perbaiÂkan sejauh ini baru berjalan 10 persen. Targetnya selesai dalam satu bulan. "Belum tahu kapan selesai, kira-kira satu bulan karena cuaca yang kurang baik," pungkasnya.
Sekadar informasi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Gubernur sebelumnya menyebut, pembeÂnahan bantaran sungai sebagai normalisasi. Sementara GuberÂnur DKI Jakarta Anies Baswedan memakai istilah naturalisasi.
Program normalisasi Sungai Ciliwung dimulai pada era GuÂbernur Joko Widodo (Jokowi) pasca banjir besar pada 2012. Proyek ini bekerjasama dengan Kementerian PUPR.
Program normalisasi diÂlakukan dari jembatan Jalan TB Simatupang hingga Pintu Air Manggarai. Hingga tahun 2017, titik yang baru dikerÂjakan adalah Kampung Pulo, Bukit Duri, Bidara Cina, dan Cawang Pulo. ***
BERITA TERKAIT: