"Kami punya badan otonom yang terdiri anak-anak muda yang terjun ke pertanian, mereka akan bisa bersinergi dengan santri-santri dan menjadi
centre of gravity masa depan,†kata Ketua Umum HKTI, Jenderal (purn) Moeldoko, usai MoU dengan Ketua PBNU Said Aqil Siroj di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (21/12).
Menurut dia, kedaulatan pangan menjadi hal penting yang harus diperhatikan, jika Indonesia ingin menjadi negara modern. Pengembangan pertanian, utamanya tanaman pangan seperti beras menjadi skala prioritas yang tak bisa dipungkiri lagi.
Adapun HKTI memiliki kapasitas sumber daya untuk mengembangkan pertanian padi yang dapat menghasilkan gabah kering giling yang mencapai lebih dari 9 ton per hektar. Padahal, kapasitas rata-rata petani nasional hanya 6 ton per hektar.
Bentuk kerja sama HKTI dan PBNU untuk melakukan pelatihan dan pendampingan kepada para santri yang mondok di pesantren-pesantren, bertujuan agar para santri bisa mandiri dan menjadi narasumber utama bagi masyarakat dalam mengembangkan pertanian.
"Santri itu harus mampu mandiri dan berjuang untuk agama dan dirinya juga, mereka harus dibekali dengan ilmu pertanian pratis juga perdagangan hasil pertanian. Kami memiliki sumber daya yang bisa dikerahkan untuk membentuk santri tani ini,†demikian Moeldoko.
[sam]
BERITA TERKAIT: