Begitu kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (16/10).
Dalam hal ini, Emrus menyoroti mengenai penentuan Ephorus yang masih dipilih melalui pemilihan (voting). Menurutnya, sistem pemilihan ini berpotensi memunculkan polarisasi dukungan baik secara natural maupun mobilisasi yang disengaja atau tidak, melalui berbagai strategi pendekatan antar pendeta pemilik hak suara atau melalui semacam “tim suksesâ€.
"Dengan sistem voting tersebut mobilisasi kekuatan bisa datang dari berbagai kepentingan, termasuk pengaruh dari luar struktur HKBP, sangat mungkin mewarnai pemilihan Ephorus. Bahkan peristiwa memilukan pernah terjadi, yaitu adanya semacam dualisme kepemimpinan di tubuh HKBP," ujarnya.
Menurut Emrus, jika HKBP ingin berjalan lebih independen, percaya diri, dan tidak di bawah bayang-bayang kekuatan dari luar, maka sistem pemilihan Ephorus dengan voting harus dihentikan. Penghentian ini bisa menjadi titik awal menuju manajemen HKBP yang lebih Ilahi.
"Untuk itu, menurut saya, sudah saatnya sistem pemilihan Ephorus dievaluasi secara menyeluruh dan melakukan perubahan total pola penentuan Ephorus dari voting ke sistem pemberian peluang kepada semua pendeta yang memenuhi persyaratan, seperti memilih ayat kepada peserta sidi. Untuk mewujudkan sistem tersebut, tentu didahului dengan perubahan persyaratan menjadi calon Ephorus," jelasnya.
Emrus yang juga jemaat HKBP menilai dengan perubahan tersebut akan lebih mudah melakukan perbaikan di berbagai bidang di HKBP, sehingga lebih mengedepankan karakter Ilahi dan lambat laun meninggalkan karakter duniawi.
"Oleh karena itu, momentum dan kesempatan harus dimanfaatkan secara optimal. Bila tidak, sulit kita mengharapkan adanya perubahan perbaikan di tubuh HKBP," tutupnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: