Membangun Karakter Bangsa Tantangan Bagi Pendidik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 10 April 2017, 17:01 WIB
Membangun Karakter Bangsa Tantangan Bagi Pendidik
Net
rmol news logo Di era digital yang berkembang cepat dan semakin canggih saat ini, akses pada pengetahuan dan informasi mudah didapat. Dan hal ini menjadi tantangan bagi para pendidik di Indonesia.

Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah usai menerima perwakilan Serikat Pekerja Guru Turki di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/4).

"Ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Peran guru sebagai pendidik dituntut bisa menjawab perkembangan ini," katanya.

Menurut Fahri, tantangan bagi dunia pendidikan saat ini khususnya guru sesungguhnya adalah pembangunan karakter. Sebab, kalau hanya menjadi tempat bertanya maka anak didik sudah punya tempat bertanya lain yang lebih akrab yakni ponsel.

"Karena mereka tidak dihalangi untuk punya handphone. Didalamnya ada aplikasi, mereka bisa tanya macam-macam. Jadi mereka bisa dapat informasi dan pengatahuan dari handphone," jelasnya.

Namun, Fahri melanjutkan, para pendidik harus menyadari bahwa karakter satu bangsa tidak bisa didapatkan dari handphone  Karakter inilah yang menentukan kemajuan sebuah negara. Apalagi karakter bangsa bermula dari apa yang diajarkan kepada anak didik.

"Ajaran tentang karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia menjadi tanggung jawab guru dalam konteks pendidikan formal. Kurikulum pendidikan yang berkepribadian dalam kebudayaan menjadi karakter kolektif bangsa," tambahnya.

Pimpinan DPR Koordinator Bidang Kesra tersebut menambahkan bahwa fondasi karakter bangsa adalah agama. Hal ini tercermin dalam ideologi negara Pancasila. Dalam agama diajarkan sejak dini bahwa semua jenis kebaikan diperlukan untuk membangun negara, itu fondasi yang ada dalam agama.

"Keyakinan kemanusiaan, pengorbanan, saling berbagi, berjuang dan berusaha, semua ada dalam agama. Kita tidak punya persoalan antara tujuan agama dengan tujuan negara. Karena dari awal kita diajarkan agama dan negara itu punya tujuan mulia yang sama," papar Fahri.

Saat diskusi sempat menyinggung pendidikan Islam yang modern, Fahri mengaku mendukung kerja sama Indonesia dengan Turki dalam tukar gagasan dan ide tentang pendidikan Islam moderat.

"Pendidikan semacam ini yang harus dimasifkan," tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA