Jarak 10 mil atau 16 kilometer dari pesisir pantai Kota Bengkulu, juga jadi salah satu destinasi favorit wisatawan. Terumbu karang seluas 200 hektare di Pulau Tikus juga menyimpan pesona alam bawah lautnya.
Namun, naiknya permukaan laut akibat pemanasan global ikut berdampak pada area daratan di pulau yang semula seluas dua hektare itu.
Dengan kondisi saat ini, luas daratan pulau yang dihuni banyak kucing itu hanya tersisa 0,85 hektare. Khususnya, area sebelah timur pulau yang berada di sisi barat Bengkulu itu.
"Bahkan terus menyusut dan terancam hilang," kata Ketua Komunitas Mangrove Bengkulu (KMB) Riki Rahmansyah, Selasa (28/3) saat melakukan riset di pulau tersebut.
Beberapa pohon kelapa dan bangunan di pulau itu, tumbang dan hancur. Menara mercusuar juga sudah lebih dari dua kali berpindah tempat akibat abrasi laut itu. Abrasi, menjadi salah satu musuh utama.
Tingginya erosi dan abrasi Pulau Tikus tidak terlepas dari kerusakan terumbu karang yang menopang pulau tersebut. Padahal, salah satu fungsi terumbu karang adalah menahan laju arus dan gelombang yang menerpa daratan pantai Kota Bengkulu.
Pihak KMB yang dihuni sejumlah mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Bengkulu, mencoba meredam proses abrasi.
Berdasarkan hasil survei dan riset yang telah dilakukan, tidak ada habitat mangrove di Pulau Tikus. Sehingga, mereka akan mencoba membuatkan habitat baru dengan menanam jenis tanaman yang bisa hidup di substrak karang (media tumbuh) pulau.
"Kita akan terapkan metode reforestasi untuk menahan abrasi. Teknisnya, kita gunakan metode riley encased methodology (REM). Ini baru pertama di Pulau Tikus," papar Riki.
Rencananya, 0,4 hektare area pulau akan ditanami 500 benih Bakau Kerdil (Rhizophora Stylosa). Lewat metode REM, penanaman bakau akan ditanam ke dalam pipa paralon dan ditancapkan ke dalam sedimen pulau. Tujuannya, agar akar bakau terlindungi dari ombak.
Untuk bibitnya, akan diambil dari Pulau Enggano, salah satu pulau terluar di Provinsi Bengkulu. Mengingat di pulau tersebut banyak terdapat habitat mangrove.
"Kemungkinan bulan Mei sudah bisa ditanam. Nanti bibitnya diambil dari Pulau Enggano," imbuhnya.
Setelah itu, pihak KMB akan memantau perkembangan REM tersebut hingga dua tahun ke depan. Mereka juga akab bekerja sama dengan sejumlah alumni asal Australia yang membidangi masalah tersebut.
"Ini bagian dari semi riset. Kita akan monitoring satu sampai dua tahun. Kalau berhasil, bakal diperluas. Kalau gagal, kita coba jenis metodologi lain. Kemungkinan, dibibitkan di sana, tapi lihat yang ini (REM) dulu," demikian Riki.
[ian]
BERITA TERKAIT: