Hak Atas Air Bersih Itu HAM, Pengusaha Jangan Sok Kuasa

Peringatan Hari Air Sedunia

Kamis, 23 Maret 2017, 08:19 WIB
Hak Atas Air Bersih Itu HAM, Pengusaha Jangan Sok Kuasa
Foto/Net
rmol news logo Khalayak netizen menyampaikan beragam pernyataan me­nyambut Hari Air Sedunia atau World Water Day, kemarin. Hashtag #worldwaterday memuncaki trending topic Indonesia dan dunia sejak pagi hingga sore kemarin.

Akun Twitter lembaga negara, kementerian, tokoh politik dan warga biasa menyemarakkan peringatan World Water Day bersama masyarakat internasional, kemarin. Hashtag #worldwaterday memun­caki trending topic Twitter Indonesia dan dunia, sejak pagi hingga sore kemarin, karena digunakan oleh tweeps dari semua belahan dunia dalam banyak bahasa.

Masyarakat Indonesia sebagai salah satu pengguna lini massa Twitter terbesar dunia, juga meng­gunakan hashtag tersebut untuk memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada setiap 22 Maret. Netizen menyampaikan beragam cuitan hara­pan dan pesan, ada yang serius, lucu, romantis, bahkan basa-basi.

Misalnya, akun @I_Agung7x mengatakan, "Nggak mandi adalah salah satu perwujudan savewater. #worldwaterday."

"Jangan buang air mata mu yang berharga itu untuk orang yang tak menghargai mu. Selamat Hari Air Sedunia #worldwaterday," pesan @ hyealieous.

"Air adalah salah satu sumber ke­hidupan alam semesta. Menggunakan air dengan bijak berarti ikut mera­wat kehidupan. #WorldWaterDay #TrendingTopic," komentar akun @Lazsidogiri.

Pesan agak serius, misalnya, disampaikan akun @ApidDjakfar. Dia mengingatkan, air layak konsumsi di Jakarta semakin menipis. Dari total persediaan air yang dimiliki DKI, yang layak konsumsi tidak sampai separuhnya.

"Air layak konsumsi hanya 39 persen di Jakarta, bukan 89 persen #WorldWaterDay," tulisnya.

Akun Twitter milik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tak mau ketinggalan. Komnas HAM mengingatkan, hak memper­oleh air bersih merupakan salah satu hak asasi setiap manusia.

"Air adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Hak atas air bersih adalah HAM. #worldwaterday," pesan akun @komnasham.

"Gunakanlah air sebaik-baiknya, kalau tidak berarti kalian membuang sia-sia. #WorldWaterDay," pinta akun @PutriKe19215770.

"Selamat Hari Air Sedunia #WorldWaterDay Jangan boros menggunakan air ya. Gunakan sep­erlunya, ingat, di luar sana banyak daerah yang kekeringann," warning akun @AsinanBlogger.

Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, juga berpesan mela­lui akunnya @sandiuno. "Selamat Hari Air Sedunia. Mari bersama jaga kelestarian lingkungan dengan menghemat air. Save the water, save life! #HariAirDunia #worldwater­day," cuitnya.

Netizen juga mengingatkan peris­tiwa miris yang terjadi terkait per­juangan warga menjaga lingkungan dan kelestarian air bersih. Sehari sebelum Hari Air Sedunia, seorang petani asal Pegunungan Kendeng meninggal dunia karena menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka, yang mendesak Presiden Jokowi menghentikan pembangunan pabrik semen di desanya, demi kelestarian lingkungan dan sumber air bersih warga.

Petani yang tewas karena kelela­han demo itu bernama Patmi. Petani perempuan berusia 48 tahun itu ber­sama sejumlah petani Kendeng lain menggelar unjuk rasa dengan cara memasung dan menyemen dua kaki di depan Istana Merdeka selama 8 hari, untuk menolak penambangan dan pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia.

Aktivitas penambangan di kawasan karst, menurut petani Kendeng ber­dampak pada rusaknya keberadaan sumber air di bawah Pegunungan Kendeng. Sementara, puluhan tahun para petani di Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan bergantung pada sum­ber air dari Pegunungan Kendeng.

Selain itu, air di banyak sungai di Indonesia juga dalam kondisi memprihatinkan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) per September 2016 menyebutkan, keru­sakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai di Indonesia cenderung men­ingkat dari tahun ke tahun.

Sedikitnya, Indonesia punya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai yang tersebar di berba­gai daerah Nusantara. Dari jumlah sungai utama itu, DAS mencapai 1.512.466 kilometer per segi.

Data KLHK pada September 2016, disebutkan DAS terdapat berbagai macam pengalihan lahan, misalnya, lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dari evaluasi 106 DAS di seluruh Indonesia yang menjadi prioritas, sebanyak 52 DAS menga­lami pencemaran berat dan 20 DAS mengalami pencemaran sedang-berat, serta tujuh DAS terkategori tercemar ringan-berat.

Dari 52 DAS yang mengalami ce­mar berat, sebanyak 11 di antaranya berada di Pulau Jawa, dengan 3 DAS terkategori cemar Sedang berat, yaitu, DAS Ciliwing, Cisadane, Bengawan Solo. 7 dari 11 DAS yang mengalami cemar berat berada di Jawa Timur, yaitu, Bengawan Solo, Madiun, Kali Surabaya, Kali Tengah, Kali Porong, Kali Mas, dan Kali Brantas.

Kerusakan DAS yang terjadi menurut laporan tersebut, mengaki­batkan kuantitas (debit) air sungai fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu, juga penu­runan cadangan air serta tingginya laju sedimentasi dan erosi. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA