Begitu kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis kepada redaksi sesaat lalu, Selasa (6/12).
Sutopo mengatakan, bencana longsor kembali terjadi dan memakan korban. Hujan lebat telah menyebabkan dua rumah tertimbun longsor di Kampung Cikatomas II RT 002/003 Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi Banten pada Senin (5/12) pukul 15.15 Wib. Longsor menyebabkan dua orang meninggal dunia yaitu H. Muhtar (54) dan Rika (15).
"Longsor juga menyebabkan dua orang luka berat yaitu Hj. Mintarsih (45) dan Ali (28). Kerugian material lain adalah satu rumah rata tanah, satu rumah rusak berat, 2 unit mobil dan 3 unit motor tertimbun longsor," ujarnya.
Sementara itu, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan korban ketiga yang tertimbun longsor di Dukuh Tegalsari Desa Bulurejo Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar pada Selasa (6/12). Korban Daliyem (66) warga Desa Bulurejo ditemukan oleh tim SAR gabungan setelah bekerja mencari selama 8 hari.
"Hingga saat ini longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal. Secara nasional selama tahun 2016 telah terjadi 576 kejadian longsor dan menimbulkan 177 orang tewas akibat longsor," ungkap Sutopo.
Ia melanjutkan, longsor juga menyebabkan 100 orang luka-luka, 38.506 orang menderita dan mengungsi, 1.069 rumah rusak berat, 987 rumah rusak sedang, 926 rumah rusak ringan, dan puluhan bangunan umum rusak. Diprediksikan kejadian longsor ini masih akan terus bertambah mengingat potensi longsor makin meningkat.
Dijabarkan Sutopo, meningkatnya longsor di Indonesia disebabkan tingginya kerentanan longsor. Terdapat 274 kabupaten/kota di Indonesia yang rawan longsor dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi sebanyak 40,9 juta jiwa.
"Artinya 40,9 juta jiwa masyarakat tersebut terpapar langsung dari bahaya longsor. Mereka tinggal di lereng-lereng dan tebing pegunungan dan perbukitan yang rawan longsor. Saat ada pemicunya yaitu hujan deras maka terjadi longsor," sambungnya.
"Ironisnya kemampuan mitigasi, baik struktural dan non struktural masyarakat tersebut masih sangat minim. Bahkan masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memproteksi diri dan keluarganya sehingga rentan menjadi korban longsor," pungkas Sutopo.
[ian]
BERITA TERKAIT: