Terkait dengan pemanfaatan UAV, Presiden RI Joko Widodo memberikan tanggapan positif terhadap hasil pemetaan melalui teknologi ini. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNPB Willem Rampangilei pada saat melakukan presentasi hasil UAV di hadapan Presiden pada kunjungan pascabencana banjir bandang Garut di Pos Komando Tanggap Darurat Garut, Garut, Jawa Barat, Kamis lalu (29/9).
Sementara itu, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto mengatakan bahwa kerja sama dan kolaborasi untuk memaksimalkan fungsi UAV telah menjadi kebutuhan mendesak BNPB dan pengiat UAV.
"Kerja sama yang dilakukan baik berupa saling berbagi dalam metode pelaksanaan, pemanfaatan hasil, maupun dari sisi cakupan wilayah, khususnya ketika terjadi bencana, demi kemanusiaan," kata Tri pada sambutan pembukaan seminar Pemanfaatan UAV untuk Penanggulangan Bencana, di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (6/10).
Sebelumnya, kegiatan pemotretan dan pemetaan bersama menggunakan UAV antara BNPB, Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), termasuk berbagi data serta hasil analisisnya telah dilaksakanan pada kejadian bencana longsor dan banjir bandang di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang akhir Juni lalu. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama yang bagus, terutama bagi penggiat UAV di kalangan pemerintah, khususnya yang bergerak di kebencanaan dan kemanusiaan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa penyelenggaraan seminar ini sebagai sarana koordinasi dan kolaborasi di antara penggiat UAV baik di lingkungan instansi pemerintah, akademisi, maupun pelaku kebencanaan yang lain.
Menurut Sutopo, pemanfaatan UAV memiliki banyak keuntungan dari sisi waktu, biaya, jumlah personel sebagai operator, maupun risiko di lapangan.
Teknologi UAV masih relatif baru untuk BPPT. Namun perkembangan teknologi ini sangat cepat. BPPT mengembangkan UAV dengan fokus pengetahuan. Hal tersebut dicontohkan hasil pemotretan dengan UAV berteknologi GPS dan kamera beresolusi tinggi mampu menangkap benda yang sangat kecil.
Pakar georadar BPPT Agus Kristijono mengkisahkan bagaimana teknologi UAV mampu memotret rekahan dari ketinggian. "Rekahan dapat diamati dari darat dan udara, kemudian kita gabungkan. Hasil kita berikan kepada BNPB dan pemerintah daerah. Dari hasil pemotretan, kita dapat melihat secara geomorfologi bahwa lokasi terdampak seperti mangkok. Pengetahuan ini yang akan kita sampaikan," kata Agus mengenai kontribusi UAV pascabencana banjir Garut.
Sementara itu, BIG juga menggunakan teknologi UAV dalam konteks tematik. Memang melalui teknologi ini, pemetaan spasial dapat dilakukan secara cepat. BIG turut mendukung BNPB dalam pemetaan seperti pada bencana erupsi Gunung Sinabung 2013 maupun institusi KPK dalam konteks menganalisis kerugian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. "Kita optimalkan teknologi ini bersama-sama. BIG juga memiliki tim reaksi cepat untuk membantu BNPB terkait pemetaan dasar tematik," ujar Yoniar Hufan, narasumber BIG pada acara seminar tersebut.
"Koordinasi dan kolaborasi yang dilakukan khususnya dalam upaya penanggulangan bencana. BNPB mengharapkan setelah seminar ini akan terbentuk Forum UAV for Humanitarian," ungkap Sutopo. Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber BNPB, BIG, BPP, BPPT, Lapan, TNI AD, UGM, dan Ketua Forum PRB Jawa Barat.
[rus]
BERITA TERKAIT: