Dalam wawancara dengan Fox News, Machado mengatakan bahwa gerakan oposisi kini siap memenangkan pemilu yang bebas dan adil.
“Saya berencana kembali ke Venezuela secepat mungkin,” ujar Machado, seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ia menegaskan bahwa proses transisi politik harus segera berjalan dan menyatakan keyakinannya bahwa oposisi akan meraih kemenangan telak apabila pemilu digelar secara jujur dan adil.
“Dalam pemilu yang bebas dan jujur, kami akan memenangkan lebih dari 90 persen suara,” tegasnya.
Namun demikian, situasi politik Venezuela dinilai masih jauh dari stabil. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru mempertimbangkan kerja sama sementara dengan Presiden interim Delcy Rodriguez, yang dikenal sebagai sekutu lama Maduro, demi menjaga stabilitas negara. Sikap tersebut mengecewakan kubu oposisi dan memicu kegelisahan di dalam negeri.
Trump menilai pelaksanaan pemilu cepat belum realistis. “Negara ini harus diperbaiki terlebih dahulu. Tidak mungkin rakyat bisa langsung memilih,” kata Trump kepada NBC, menanggapi usulan tenggat waktu 30 hari.
Meski Maduro telah ditangkap di Caracas, loyalis Partai Sosialis masih menguasai berbagai institusi negara, termasuk militer dan aparat keamanan. Di sisi lain, Machado juga tengah menghadapi penyelidikan atas tuduhan menghasut pemberontakan di tubuh militer.
Sejumlah pendukung oposisi dan pengamat internasional meyakini bahwa oposisi sebenarnya memenangkan pemilu 2024, namun hasilnya dicurangi. Machado sendiri diketahui dilarang mengikuti pemilu tersebut.
Machado turut melontarkan kritik keras terhadap Delcy Rodriguez yang kini memimpin pemerintahan sementara. “Dia adalah salah satu arsitek utama penyiksaan, penganiayaan, korupsi, dan perdagangan narkoba,” ujar Machado, sembari menyinggung kedekatan Rodriguez dengan Rusia, China, dan Iran.
BERITA TERKAIT: