Ditambah lagi dengan ketegangan yang diluncurkan China di Selat Taiwan dengan melakukan pelatihan dan uji coba militer, telah banyak menimbulkan kekhawatiran strategis terkait prospek invasi jangka pendek yang akan dilakukan.
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Amerika Serikat (AS), Colin H. Kahl, mengatakan meskipun China sangat ingin memperluas pengaruh politik dan militernya di kawasan Indo-Pasifik, tetapi langkah agresif terhadap Taiwan kemungkinan besar akan dilakukan Beijing dengan lebih hati-hati.
"Saya tidak berpikir bahwa China ingin menempatkan posisi seperti Rusia saat ini yang menyerang tetangga demokratisnya. Saya pikir jika itu terjadi, maka China akan menanggung biaya politik dan ekonomi yang sangat signifikan," ujarnya, seperti dikutip dari laman
Departemen Pertahanan AS pada Jumat (9/9).
Khal mengatakan jika China bisa saja mengambil pelajaran dari invasi Rusia ke Ukraina selama enam bulan terakhir, dan berharap Beijing akan berfikir untuk tidak melakukan hal yang sama.
"Saya berharap mereka akan mengambil pelajaran dari pengalaman Rusia, bahwa mungkin seharusnya kita tidak melakukan itu," lanjutnya.
Percepatan batas waktu penyatuan China dengan Thaiwan yang diinginkan Xi Jinping menurut Kahl tetap ada potensi untuk dilakukan. Namun sejauh ini, Kahl tidak melihat indikasi Xi akan melakukannya dalam waktu dekat.
Sementara itu, bagi Kahl, kekhawatiran yang lebih besar sebenarnya terjadi ketika China menjadi semakin tegas untuk merubah status quo Taiwan dan menghadapi AS yang merupakan sekutu Taipei.
Menurut Kahl, Rusia memang tidak menimbulkan tantangan bagi AS dan tatanan internasional berbasis aturan dalam jangka panjang seperti yang dilakukan China. Tetapi dalam jangka pendek, Beijing akan menjadi aktor yang cukup berbahaya.
"Untuk itu, AS dan sekutunya harus mewaspadai tindakan agresif angkatan laut dan angkatan udara Tentara Pembebasan Rakyat China yang berisiko menimbulkan insiden internasional," pungkasnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: