Dua Tahun Covid-19, Selandia Baru Buka Perbatasan Jalur Laut

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Jumat, 12 Agustus 2022, 17:38 WIB
Dua Tahun Covid-19, Selandia Baru Buka Perbatasan Jalur Laut
Kapal Pacific Explorer berlayar ke Pelabuhan Waitemata, di Auckland, Selandia Baru/AP
rmol news logo Selandia Baru menyambut kapal pesiar pertamanya yang kembali beroperasi pada Jumat (12/8). Kapal ini kembali setelah dua tahun lamanya sempat terhenti sejak pandemi virus Covid-19.

Meskipun Selandia Baru telah membuka kembali perbatasannya pada Mei untuk sebagian besar turis yang datang dengan pesawat, namun baru dua minggu yang lalu negara itu mencabut semua pembatasan yang tersisa, termasuk pembatasan kedatangan melalui jalur laut.

Dibukanya jalur laut ini menandakan kembalinya industri pariwisata negara yang telah lama ditunggu-tunggu oleh banyak orang.

Banyak orang di industri pelayaran yang mempertanyakan mengapa butuh waktu begitu lama untuk membuka pembatasan tersebut. Akan tetapi kini mereka semua menyambut gembira atas kembalinya kapal pesiar ini.

Berakhirnya pembatasan memungkinkan kapal pesiar Pacific Explorer Carnival Australia akan melintasi Auckland dengan membawa sekitar 2.000 penumpang dan awak sebagai bagian dari perjalanan pulang-pergi selama 12 hari yang berangkat dari Sydney menuju Fiji.

“Ini adalah langkah lain dalam pembukaan kembali perbatasan kami dan selangkah lebih dekat untuk melanjutkan bisnis seperti biasa," ungkap Menteri Pariwisata Stuart Nash dengan penuh semangat, dikutip dari The Associated Press.

Industri pelayaran menyumbang sekitar 20 persen dari pendapatan asing Selandia Baru dan lebih dari 5 persen dari PDB.

Menurut Nash, perlu beberapa waktu bagi Selandia Baru untuk kembali meningkatkan jumlah dan pendapatan dari turis internasional seperti sebelum pandemi terjadi.

“Saya pikir ada banyak orang di sektor pariwisata yang telah melakukannya dengan keras selama dua tahun terakhir. Tetapi kami selalu mengambil pendekatan di mana kami perlu memastikan bahwa kami mendapatkan respons kesehatan yang benar. Karena jika tidak, kami tahu konsekuensinya mengerikan,” pungkas Nash. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA