Mangenta adalah proses mengolah Kenta yang merupakan makanan warisan leluhur di Kalimantan Tengah. Dahulu kalan ini adalah kegiatan yang biasa dilakukan kaum petani pada saat musim tiba untuk menuai, yang menandai dimulainya panen padi.
Masyarakat Dayak menjaga tradisi magenta dengan tujuan untuk mendahului masa berkembang biaknya hama padi seperti tikus, burung, atau serangga. Mangenta juga dilakukan sebagai rasa syukur para petani atas hasil panen.
Kenta sendiri adalah makanan khas suku Dayak yang terbuat dari beras ketan yang direndam selama satu jam untuk kemudian disangrai dengan tungku di atas kayu bakar hingga matang. Kenta yang sudah matang selanjutnya dihidangkan bersama-sama dengan air kelapa, gula merah, gula pasir, dan potongan kelapa muda.
Sayangnya, saat ini banyak generasi muda Kalteng bahkan keturunan Dayak sendiri tidak tahu tentang tradisi magenta ataupun makanan kenta.
Pemerintah Provinsi Kalteng dalam peringatan Hari Jadi ke-65 baru-baru ini, menggelar Lomba Mangenta untuk mengenalkan lagi budaya Suku Dayak serta untuk melestarikannya. Tak disangka, lomba yang diselenggarakan di Palangkaraya pada 22 Mei lalu ini menyedot banyak peserta hingga mencvapai 1.034 dan menorehkan rekor MURI.
Festival ini dibuka oleh Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut karena menjadi sarana pelestarian budaya Kalteng.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini, karena merupakan wujud pelestarian kebudayaan Kalteng. Kegiatan ini dapat menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara,†katanya, mengutip situs resmi Kota Palangkaraya.
Ia menambahkan bahwa pencapaian ini sangat luar biasa yang tidak lepas dari partisipasi dan dukungan masyarakat di Kalteng.
BERITA TERKAIT: