Sejumlah pengamat sendiri meyakini, saat ini China mulai mengubah kebijakan ketika menanggapi perang antara Rusia dan Ukraina.
Hal itu terlihat dari media pemerintah China yang saat ini mulai melaporkan informasi positif mengenai Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Pada 5 Mei, banyak media pemerintah PKC, termasuk CCTV, Global Network, dan China Business News, melaporkan secara positif pidato Zelensky. Ini sangat berbeda dari penggambaran Zelensky sebelumnya sebagai badut dan komedian.
Di samping itu, jurubicara Partai Komunis China (PKC) juga untuk pertama kalinya menggunakan istilah "invasi Rusia ke Ukraina" sebanyak tiga kali dalam sebuah wawancara eksklusifnya pada 30 April lalu.
Sejak Rusia meluncurkan operasi militer khusus ke Ukraina, China menolak menggunakan istilah "invasi". PKC juga memberikan dukungan atas kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin itu.
Menurut profesor di Universitas Teknologi Sydney, Feng Chongyi, perubahan arah yang dilakukan oleh Beijing disebabkan memburuknya situasi ekonomi China.
Diyakini sudah terjadi diskusi yang intens di tubuh PKC dan Kongres Nasional untuk akhirnya mengubah arah kebijakan China terhadap perang di Ukraina.
"Jika Beijing terus mendukung Rusia dalam situasi ini, PKC akan dikenakan sanksi yang sama dengan Rusia, dan ekonomi China akan runtuh, yang tidak akan menguntungkan bagi terpilihnya kembali Xi Jinping ke Kongres Nasional ke-20," ujar Feng, seperti dikutip
The Epoch Times.
Dengan situasi ini, Feng mengatakan, Xi harus melakukan beberapa penyesuaian dan mengambil tindakan darurat, yaitu melonggarkan dukungannya pada Rusia.
Kendati begitu, situasi ini tidak serta merta dapat mengubah kebijakan China secara signifikan, di mana Beijing akan terus mendukung Rusia.
“Ini mungkin membuat beberapa perubahan kecil pada posisinya, tetapi bukan perubahan substantif. Itu hanya bermain di kedua sisi, diam-diam mendukung Rusia dan tidak berani memihaknya di depan umum," tambahnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Profesor Sun Guo-xiang dari Universitas Nanhua Taiwan. Ia mengatakan, PKC tidak akan melepaskan dukungannya untuk Rusia, terutama di tengah persaingan strategis AS-China yang semakin intensif.
Namun, Rusia baru-baru ini mulai mempertanyakan apakah PKC benar-benar dapat memberikan bantuan yang dibutuhkannya, dan bahkan telah menyatakan ketidakpuasannya.
Baru-baru ini, penasihat ekonomi Putin, Boris Titov, menyebut kerjasama ekonomi antara China dan Rusia belum sebaik yang diharapkan.
BERITA TERKAIT: