Amerika Serikat (AS), bersama dengan Kanada, dan negara-negara Eropa telah sepakat untuk menjatuhkan sanksi terhadap bank sentral Rusia dan memutus bank-bank penting Rusia dari sistem perbankan global SWIFT.
Namun alih-alih membantu, menurut pejabat senior AS, beberapa bank China telah berhenti mengeluarkan Letter of Credit untuk pembelian komoditas dari Rusia, termasuk energi.
"Ini menunjukkan bahwa China tidak datang untuk menyelamatkan.. China cenderung menghormati kekuatan Sanksi AS," kata pejabat itu, seperti dikutip
Reuters.
China adalah mitra dagang terbesar Rusia untuk ekspor dan impor, membeli sepertiga dari ekspor minyak mentah Rusia pada tahun 2020 dan memasoknya dengan produk manufaktur dari ponsel dan komputer hingga mainan dan pakaian.
Hubungan perdagangan China-Rusia telah tumbuh secara signifikan sejak 2014, ketika Barat pertama kali menjatuhkan sanksi terhadap entitas Rusia atas pencaplokan Krimea oleh Moskow.
Beberapa dari perdagangan itu dilakukan dalam mata uang yuan China, yang secara teknis dapat berada di luar sanksi yang ditujukan untuk memotong Rusia dari transaksi dalam dolar AS, euro, sterling, dan mata uang utama lainnya.
Menurut pejabat AS, jika China membantu Rusia menghindari sanksi, maka akan menjadi sinyal yang tidak menguntungkan bagi visi China. Itu lantaran Beijing dinilai mengakomodasi diam-diam atau eksplisit untuk invasi Rusia ke Ukraina.
"Itu akan merusak reputasinya di Eropa, bahkan seluruh dunia," kata pejabat itu.
BERITA TERKAIT: