Negosiator AS dan Rusia dijadwalkan untuk bertemu pada Minggu (9/1) dan Senin (10/1) untuk membahas situasi di perbatasan Rusia dan Ukraina yang memanas.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, AS secara terbuka akan membahas kemungkinan untuk menghentikan rencana menyebarkan rudal di Ukraina dan membatasi latihan militer NATO di Eropa Timur jika Rusia menghentikan ancamannya terhadap Ukraina.
Sumber itu menyebut kesepakatan timbal balik tersebut akan bergantung pada Rusia, namun juga dibuat dengan persetujuan Ukraina dan NATO.
"Kami pikir setidaknya bisa menjajaki kemungkinan membuat kemajuan dengan Rusia. Tidak akan ada komitmen tegas yang dibuat dalam pembicaraan ini," ujarnya.
"Kami pergi ke pertemuan ini dengan rasa realisme, bukan rasa optimisme," tambahnya.
Presiden AS Joe Biden sendiri telah mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Washington tidak berniat menyebarkan rudal ofensif ke Ukraina.
Selain itu, pejabat Gedung Putih lainnya menegaskan AS dan mitra Eropanya akan memukul keras Rusia dengan sanksi ekonomi jika menyerang Ukraina.
Selain sanksi langsung terhadap entitas Rusia, hukuman dapat mencakup pembatasan signifikan terhadap ekspor AS ke Rusia, termasuk komponen dan perangkat lunak elektronik, dan produk berpotensi buatan asing yang tunduk pada yurisdiksi AS.
Rusia juga dapat ditambahkan ke kelompok negara yang paling ketat untuk tujuan kontrol ekspor, menempatkannya bersama dengan Kuba, Iran, Korea Utara, dan Suriah.
Ketegangan di perbatasan terjadi ketika Ukraina menyebut Rusia telah menumpuk pasukannya di perbatasan. AS dan NATO yang menyatakan dukungan untuk Ukraina berkomitmen siap membantu melawan Rusia.
Di sisi lain, Rusia menyebut pengerahan pasukan di wilayahnya merupakan hak. Sebaliknya, Moskow menuding NATO berusaha memperluas pengaruhnya ke timur.
BERITA TERKAIT: