Mengulik peristiwa lama, pada 4 Maret 2018, pihak berwenang Inggris mengatakan bahwa mantan agen Rusia Sergei Skripal, 66, dan putrinya yang berusia 33 tahun, Yulia, telah dirawat di rumah sakit setelah mereka ditemukan tidak sadarkan diri di bangku di luar sebuah pusat perbelanjaan di Salisbury, Inggris.
Dalam penyelidikan yang dilakukan kepolisian London, penyidik menyatakan kedua korban telah terpapar Novichok, senjata kimia yang sangat mematikan yang konon dikembangkan di bawah program rahasia Soviet. Inggris pun menuduh Moskow melakukan percobaan pembunuhan, seperti dilaporkan
TASS.
Moskow membantah tuduhan dan sejak itu dengan keras dan berulang kali menolak keterlibatan apa pun.
Bisa saja zat tersebut berasal dari negara-negara yang mempelajari Novichok, termasuk Inggris sendiri, atau Slovakia, Republik Ceko, dan Swedia, yang sejauh ini juga mengembangkan Novichok.
Kasus ini memicu salah satu perselisihan terbesar antara Rusia dan Barat sejak berakhirnya Perang Dingin, dan menyebabkan pengusiran balas dendam terhadap puluhan diplomat.
Di tahun itu juga, jaksa Inggris telah mendakwa dua orang Rusia dengan dugaan pembunuhan terhadap Sergei Skripal dan putrinya.
Laporan terbaru, polisi Inggris telah menetapkan seorang tersangka lagi pada Selasa (21/9). Tersangka ketiga ini telah didakwa secara in absentia dengan 'serangan' dan percobaan pembunuhan. Polisi Inggris juga mengklaim bahwa ketiga tersangka adalah mata-mata yang bekerja untuk intelijen militer Rusia.
Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia Sergei Naryshkin mengecam tuduhan baru itu sebagai kebohongan belaka, menekankan bahwa London mencari-cari cara untuk melemparkan tuduhan, membuat mereka dalam upaya untuk mengalihkan perhatian dari masalah lain.
“Ini adalah upaya untuk menutupi kebohongan lain atau mendukung kebohongan sebelumnya,†katanya.
BERITA TERKAIT: