Dengan tegas, Dutabesar RI untuk Austria, Slovenia, dan PBB, Darmansjah Djumala menolak perspepsi tersebut lewat sebuah buku kompilasi berbagai tulisannya yang berjudul "Diplomasi Membumi: Narasi Cita Diplomat Indonesia".
"(Buku) ini bermula dari pengamatan saya bagaimana publik mempersepsikan 'Apa itu diplomasi?'... Ada kesalahan persepsi bahwa diplomasi itu dikerjakan para elit, tapi berjarak dengan rakyat. Persepsi ini mengganggu saya sebagai diplomat," ungkap Dubes Djumala dalam Webinar Bedah Buku yang digelar FISIP Unpad pada Rabu (7/7).
Kegelisahan Dubes Djumala itu kemudian didorong dengan provokasi dari para akademisi hingga rekan-rekannya di Kementerian Lular Negeri untuk membukukan berbagai pemikirannya.
Tekadnya semakin kuat dengan peribahasa Latin kuno
"Verba volant, scripta manent" yang ia yakini. Peribahasa itu diartikan, "Apa yang terucap mudah lenyap, apa yang tercatat akan melekat."
Alhasil, sejak pandemi dimulai, Dubes Djumala mulai mengumpulkan berbagai tulisannya. Bukan hanya sejak bergabung di Kemlu 37 tahun lalu, namun juga ketika ia masih menjadi mahasiswa.
Dari proses pengumpulan artikel selama kurang lebih 1,5 tahun, akhirnya terlahir buku yang terdiri dari 8 bagian, 112 artikel, dan 518 halaman.
"Tulisan dari 1980-an, ketika masih menjadi mahasiswa, menulis di koran Merdeka, Warta Ekonomi, Sinar Harapan. Ini koran-koran sudah almarhum. Tapi alhamdulillah, sahabat-sahabat saya yang bekerja di koran-koran ini masih menyimpan arsip-arsipnya," tutur Dubes Djumala.
Secara keseluruhan, ia menjelaskan, buku tersebut berisi dua hal. Pertama seputar konsep dan kebijakan isu nasional, regional, dan global, termasuk isu-isu khusus. Dan kedua, beberapa isu yang menjadi wacana publik di masyarakat.
Buku tersebut juga diisi dengan Kata Sambutan dari Presiden Joko Widodo dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, serta Kata Pengantar dari intelektual UIN Azyumardi Azra.
BERITA TERKAIT: