Dengan kekerasan ekstremis yang terus meningkat selama proses penarikan pasukan asing, banyak warga Afghanistan mulai merencanakan eksodus.
Pekan lalu, Kongres AS mendesak pemerintahan Joe Biden untuk mengevakuasi ribuan warga Afghanistan yang selama dua dekade terakhir bekerja untuk diplomatik dan militer AS di sana.
“Kami memiliki kewajiban moral untuk melindungi sekutu pemberani kami yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk kami, dan kami telah bekerja selama berbulan-bulan untuk melibatkan pemerintah dan memastikan ada rencana, dengan sedikit hasil nyata,†ujar Perwakilan Republik Peter Meijer Michigan, seperti dikutip
Associated Press.
Anggota parlemen telah mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan relokasi sementara warga Afghanistan ke lokasi luar negeri yang aman sementara visa AS mereka diproses.
Beberapa telah menyarankan Guam, wilayah AS yang juga menjadi tujuan eksodus setelah Perang Vietnam dan Perang Teluk 1996.
Gubernur Guam baru-baru ini menulis kepada Biden untuk mengatakan bahwa wilayah itu siap membantu jika diperlukan.
Sementara itu, pemerintahan Biden untuk saat ini berfokus pada percepatan program visa khusus untuk warga Afghanistan yang bekerja pada misi AS.
"Kami sedang bekerja dengan Kongres sekarang untuk merampingkan beberapa persyaratan yang memperlambat proses ini dan kami sedang melakukan perencanaan ekstensif untuk kemungkinan evakuasi, jika itu diperlukan," jelas sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki pada Rabu (23/6).
Perwakilan Demokrat Jason Crow dari Colorado baru-baru ini memperkenalkan RUU yang hampir menggandakan jumlah visa yang tersedia tahun ini, menjadi 8.000, serta memudahkan persyaratannya.
Namun meski RUU tersebut disahkan, jumlahnya tidak cukup untuk menampung 18.000 warga Afghanistan yang menyatakan keinginan untuk melarikan diri ke AS.
Angka itu juga belum termasuk pasangan dan anak-anak mereka, sehingga totalnya menjadi sekitar 70.000 orang.
BERITA TERKAIT: