Otoritas Spanyol mengatakan pihaknya mengirim pasukan, truk, dan helikopter militer untuk membendung kedatangan migran. Sebanyak 8.000 migran termasuk setidaknya 2.000 anak di bawah umur dan lebih dari 4.000 orang telah dikirim kembali.
"Kami akan memulihkan ketertiban di kota dan perbatasan," kata Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti dikutip
UPI, Rabu (19/5).
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaksa pada Selasa (18/5) mengatakan bahwa Ceuta, kota pelabuhan yang berbatasan dengan Maroko dan dipisahkan dari sisa Spanyol oleh Laut Mediterania, "adalah Spanyol seperti Madrid, Seville atau Barcelona".
Migran mulai tiba di Ceuta dalam jumlah besar pada Senin (17/5). Banyak yang berenang di sekitar pemecah gelombang atau mendayung perahu darurat ke pantainya, sementara yang lain mengarungi perairan saat air surut atau memanjat pagar keamanan.
Lonjakan kedatangan tersebut melebihi jumlah migran yang berusaha menyeberang ke Ceuta selama sisa tahun ini.
Pejabat Palang Merah mengatakan mereka "benar-benar" kewalahan dengan kedatangan, karena banyak migran membutuhkan perawatan untuk hipotermia. Otoritas Spanyol mengatakan setidaknya satu migran tewas saat melintasi perbatasan.
Masuknya migran terjadi di tengah bentrokan diplomatik antara Spanyol dan Maroko setelah pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali, menerima perawatan medis di Spanyol sejak bulan lalu.
BERITA TERKAIT: