Sebenarnya, merujuk pada
USA Today, sentimen anti-Asia semacam ini telah tumbuh sejak masa awal pandemi Covid-19, namun mencapai "puncaknya" baru-baru ini, setelah terjadinya serangkaian penembakan terhadap warga Asia di Amerika Serikat pertengahan Maret lalu.
Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Rinikso Kartono dalam program mingguan
RMOL World View bertajuk
"Bangkitnya Anti-Asia di Negeri Adi Kuasa" (Senin, 5/4) menjelaskan bahwa isu rasial kerap mewarnai sejarah di negeri Paman Sam.
"Dalam sejarah Amerika Serikat, selalu dalam perjalanannya ada bumbu-bumbu rasial, mulai era diskirminasi kulit hitam. Meskipun pada masa Abraham Lincoln itu sudah dihapus secara legal, tapi dari segi budaya psikologi tidak bisa dihapus," jelasnya.
Hal itu termasuk pada praktik-praktik politik, sosial dan juga pemerintahan.
"Kita bisa lihat seperti pada masa pemerintahan Donalld Trump, dia secara. terang-terangan membenci muslim. Ini kan bukan aktor tunggal, tapi berbagai aktor bmemainkan peran," tandasnya.
BERITA TERKAIT: