"Kami mengungkapkan kekaguman dan terima kasih atas perhatian Presiden Biden tentang keamanan Selat Taiwan dan masalah hak asasi manusia," kata juru bicara Xavier Chang dalam sebuah pernyataan pada Kamis (11/2).
"Sebagai anggota komunitas internasional, Taiwan akan terus bekerja sama dengan negara-negara yang berpikiran sama, termasuk Amerika Serikat, untuk bersama-sama berkontribusi pada stabilitas dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik," tambahnya, seperti dikutip dari
Reuters.
Biden, saat berbicara dengan Xi, menekankan kekhawatirannya atas sikap keras China terhadap aktivis demokrasi di Hong Kong, pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang, dan tindakan keras terhadap Taiwan.
Beijing secara terus menerus mengklaim kedaulatan penuh atas Taiwan, bahkan ketika kedua belah pihak telah diperintah secara terpisah selama lebih dari tujuh dekade.
China juga secara teratur menggambarkan Taiwan sebagai masalah paling penting dan sensitif dalam hubungannya dengan Amerika Serikat, dan marah dengan peningkatan kontak antara keduanya dan peningkatan penjualan senjata di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump.
Dalam percakapan telepon itu, Xi tetap mempertahankan ketegasannya mengenai Hong Kong, Xinjiang dan Taiwan, dan mengatakan bahwa itu adalah masalah dalam negeri China.
Mengetahui pembelaan dan janji Biden itu, Taiwan telah berbesar hati dan kagum.
Bersamaan dengan percakapan Biden dengan Xi, perwakilan Taiwan dan pejabat tinggi AS mengadakan pertemuan formal pertama mereka yang diakui secara publik di Washington di bawah pemerintahan baru.
Duta besar defacto Taiwan untuk Amerika Serikat, Hsiao Bi-khim, bertemu dengan Sung Kim, penjabat Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik.
BERITA TERKAIT: