Salah seorang veteran Perang Vietnam, Gerry Condon mengaku kecewa dengan keputusan Trump karena menambah luka bagi rakyat Irak yang kehilangan raturan ribu orang yang mereka cintai akibat perang yang dipimpin oleh Amerika.
"Pengampunan penjahat perang juga menambah penghinaan terhadap luka bagi para veteran AS yang berperang di Irak dan Afganistan, serta membawa trauma karena telah menyaksikan kekejaman terhadap warga sipil yang tidak bersalah," tambahnya kepada
Sputnik.
Mantan presiden Veterans For Peace itu menekankan bahwa terdapat aturan yang harus diikuti oleh tentara untuk menghindari kejahatan perang.
Sayangnya aturan tersebut sering diabaikan ketikan tentara diminta untuk berperang melawan seluruh populasi.
"Tentara muda dengan senjata mematikan dikalahkan oleh rasa takut, balas dendam, rasisme dan kebencian, dan mereka tahu bahwa tidak akan ada harga yang harus dibayar untuk pembunuhan," ucapnya.
"Tentara memiliki hak dan tanggung jawab untuk menolak perintah ilegal untuk membunuh warga sipil yang tidak bersalah atau untuk berpartisipasi dalam perang ilegal dan tidak perlu," sambung dia.
Bagi Condon, fakta bahwa Trump yang seorang Panglima Tertinggi AS mengampuni penjahat perang adalah hal yang salah dan harus ditolak.
Alih-alih memberi grasi untuk penjahat perang, Condon mendesak Trump untuk mengampuni tahanan politik seperti Julian Assange, Chelsea Manning, Edward Snowden, Leonard Peltier, dan Mumia Abu Jamal.
"Pengampunan semacam itu akan membantu menyembuhkan luka perang. Pengampunan Presiden Trump justru sebaliknya," pungkasnya.
Pada Selasa (22/12), Trump memberikan pengampunan penuh kepada empat mantan kontraktor Blackwater yang dihukum sehubungan dengan kematian 14 warga sipil Irak, termasuk dua anak, di Lapangan Nisour Baghdad pada 2007.
BERITA TERKAIT: