Blair mengatakan, pemerintah harus mengubah rencananya dengan tidak hanya memberikan vaksin pada kelompok paling rentan, tapi juga sebanyak mungkin warga Inggris.
Desakan itu disampaikan Blair dalam sebuah tulisannya yang diunggah di
The Independent pada Selasa (22/12).
Blair berhasap vaksinasi massal untuk seluruh warga Inggris dapat dilakukan pada musim panas tahun depan, sebelum kerusakan terjadi.
"Kita tidak bisa memberantas virus ini, kita harus hidup dengannya," kata Blair.
"(Virus) itu akan bersama kita mungkin selama beberapa tahun. Mungkin berubah menjadi seperti flu, jadi penyesuaian adalah cara untuk memberantasnya," lanjutnya.
Virus corona jenis baru yang diidentifikasi di Inggris diyakini 70 persen lebih menular daripada yang asli.
Sementara itu, sejauh ini, Inggris baru menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech.
Blair juga mendesak para regulator untuk mempercepat persetujuan penggunaan vaksin lain, termasuk yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford.
Ia pun meminta pemerintah untuk tidak menahan setengah vaksin yang sudah tersedia untuk dosis kedua dengan segera menyuntikannya pada warga.
Vaksin Covid-19 sendiri harus disuntikan dua kali untuk mendapatkan hasil yang efektif. Dalam hal ini, pemerintah Inggris menahan setengah jumlah dosis vaksin yang tersedia untuk dosis kedua.
"Kita harus mempertimbangkan untuk menggunakan semua dosis yang tersedia di bulan Januari sebagai dosis pertama, yaitu tidak menahan setengah untuk dosis kedua. Kemudian, karena lebih banyak produksi yang diluncurkan, kita akan memiliki cukup untuk dosis kedua," jelas Blair.
"Tiga puluh juta vaksin Johnson&Johnson, yang merupakan vaksin satu dosis, juga harus bersama kita pada akhir Januari. Kita harus menargetkan untuk menggunakan semuanya pada bulan Februari," tambahnya.
Jika mengacu pada strategi Blair, maka Inggris dapat melakukan vaksinasi pada seperempat populasi atau 15 juta orang. Saat ini, Inggris sudah melakukan vaksinasi dosis pertama vaksin Pfizer pada setidaknya 108 ribu orang.
BERITA TERKAIT: