“Orang-orang kami dikubur hidup-hidup di kuburan massal, anak-anak kami dibantai di kamar mandi, 103 desa dipaksa untuk pindah, dan orang-orang kami dijatuhi hukuman untuk tinggal di ghetto kecil di bawah pengepungan," ujarnya, dalam pernyataan yang diterbitkan di laman resmi Kantor Informasi Publik TRNC.
Selama pembantaian itu, rakyat Siprus Turki tidak pernah tunduk dan menyerah kepada pasukan Siprus Yunani. "Rakyat kami telah kemerdekaannya saat ini. Kebebasan dan kemerdekaan di bawah jaminan Turki dengan perlawanan dan perjuangan ini," ujar Tatar.
Konflik bersenjata dipicu pada 21 Desember 1963, periode yang dikenang oleh warga Siprus Turki sebagai Natal Berdarah.
Tatar pun menyampaikan rasa hormat dan penghargaannya kepada para martir dan veteran. Tatar menyatakan bahwa mentalitas Siprus Yunani tidak berubah dan terus berlanjut sejak 1963.
“Kami sekali lagi menyebutkan di hadapan para martir bahwa kami tidak akan menyerah dari kedaulatan kami, kebebasan, kemerdekaan, jaminan Turki dan kehadiran pasukan Turki.
Kami akan melanjutkan perjuangan dan perlawanan kami dengan berpacu pada sejarah kami, Tanah Air Turki dan para martir kami. Tentu saja, kami menginginkan kesepakatan. Tetapi perjanjian ini harus didasarkan pada dua negara berdaulat yang terpisah," lanjutnya.
Tatar mengingatkan agar semua orang menatap masa depan dengan tetap berpegang pada sejarah. Ia mengimbau agar rakyatnya bersama-sama melindungi Siprus Turki dari bahaya di masa depan.
"Saya menyapa para veteran kami dengan rasa hormat dan belas kasihan dengan perasaan dan pemikiran ini, dan memperingati terutama pemimpin Siprus Turki Dr. Fazıl Küçük, Presiden Pendiri Rauf Raif Denktaş dan para martir kami sekali lagi,†katanya.