Dalam bukunya yang berjudul "Let Us Dream: the Path to a Better Future" dan akan dirilis pada bulan depan, Paus mengatakan minoritas Uighur adalah kaum yang teraniaya.
"Saya sering memikirkan orang-orang yang teraniaya: Rohinya, Uighur yang malang, Yazidi," tulis Paus dalam bagian buku yang membahas penganiayaan umat Kristen di negara-negara Islam.
Buku berbahasa Inggris setebal 150 halaman tersebut merupakan karya Paus dengan penulis biografi, Austen Ivereigh.
Dimuat
The Guardian pada Selasa (24/11), buku itu banyak mendorong solidaritas dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Paus juga meminta pemerintahan dunia untuk mempertimbangkan pembangunan pendapatan dasar universal yang permanen untuk mengatasi ketidaksetaraan setelah pandemi berakhir.
Sejak isu Uighur menyeruak, Paus belum pernah memberikan komentarnya secara publik. Padahal banyak aktivis kemanusiaan yang mendesaknya untuk ikut bersuara selama bertahun-tahun.
Sejumlah pengamat menuturkan, diamnya Vatikan terhadap Uighur disebabkan adanya kesepakatan dengan China. Di mana Amerika Serikat (AS) telah mendesak Vatikan untuk meninggalkan kesepakatan tersebut pada September lalu.
Baik pemimpin agama, aktivis, organisasi internasional, hingga banyak negara di dunia kerap menyuarakan isu kemanusiaan terhadap minoritas Uighur.
Berdasarkan laporan PBB, sebanyak lebih dari 1 juta Muslim Uighur ditahan di kamp-kamp di Xinjiang.
BERITA TERKAIT: