Pada Rabu (2/11), petahana, Presiden Donald Trump mendeklarasikan kemenangannya yang langsung dikritik oleh banyak pihak, terutama lawannya dari Partai Demokrat, Joe Biden.
Di tengah proses perhitungan suara, Trump juga mengklaim adanya penipuan pemilu di sejumlah negara bagian.
Dengan berbagai manuver yang dilakukan oleh Trump, media sosial pun dibanjiri oleh berbagai komentar. Banyak di antaranya bahkan membandingkan pemilu AS dengan pemilu Indonesia.
Pakar Asia Tenggara dari Australian National University, Dr Ross Tapsell melalui akun Twitter-nya, @RossTapsell mengatakan deklarasi kemenangan Trump mengingatkannya pada pemilu Indonesia.
"Tapi itu bukan politik Indonesia yang sebenarnya kecuali Trump akhirnya menjadi Menteri Pertahanan Biden," cuit Tapsell.
Menanggapi hal tersebut, Research Fellow dari Loyola University Chicago, Ratri Istania mengatakan pilpres AS saat ini memang seakan menonton pertunjukan Hollywood.
"Ini lucu juga, sepertinya kok Amerika, negara demokrasi terbesar mengikuti pola negara demokrasi terbesar ketiga, Indonesia," kata Ratri dalam
RMOL World View bertajuk "Panas Dingin Pemilu AS" pada Jumat malam (6/11).
"Itu betul-betul lucu sekali. (Pilpres) Amerika Serikat sekarang ini (seakan) sedang menonton pertunjukan Hollywood," sambungnya.
Selain adanya manuver-menuver dari setiap kandidat, Ratri mengatakan, pilpres AS juga dibuat menarik dengan aturan yang diberlakukan di Negeri Paman Sam tersebut.
Di AS, ia melanjutkan, setiap negara bagian memiliki tenggat waktu perhitungan suara yang berbeda-beda. Dalam proses perhitungan di setiap negara bagian sendiri Trump selalu memberikan respons yang membuat masyarakat bingung.
"Masyarakat bingung ini maksudnya gimana dengan keinginan-keinginan Trump yang diungkapkan lewat Twitter," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: