Kembali Ke Sekolah, Siswa Prancis Memulai Kegiatan Belajar Dengan Mengheningkan Cipta Mengenang Samuel Paty

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 03 November 2020, 06:37 WIB
Kembali Ke Sekolah, Siswa Prancis Memulai Kegiatan Belajar Dengan Mengheningkan Cipta Mengenang Samuel Paty
Ilustrasi/Net
rmol news logo Sejumlah sekolah di seluruh Prancis mengheningkan cipta selama satu menit pada hari Senin (2/11) waktu setempat untuk mengenang Samuel Paty, guru yang dipenggal oleh seorang remaja Chechnya yang ingin membalas penggunaan kartun yang mengejek Nabi Muhammad di kelas kebebasan berekspresi beberpa pekan lalu.

Ini adalah hari pertama bagi sekitar 12 juta siswa Prancis yang kembali ke sekolah pasca tragedi 16 Oktober itu.

Presiden Emmanuel Macron menyebut pembunuhan itu sebagai serangan terhadap nilai-nilai Republik Prancis. Tetapi desakannya bahwa Prancis tidak akan berkompromi pada kebebasan dasar berkeyakinan dan berekspresi telah memicu protes di kalangan Muslim di seluruh dunia.

"Ide terorisme adalah menciptakan kebencian," tulis Macron dalam pesannya kepada anak sekolah di media sosial. "Kami akan melakukan ini bersama-sama," tulis Macron, seperti dikutip dari AFP, Senin (2/11).

Para siswa berdiri mengheningkan cipta pada pukul 11 ​​pagi (waktu setempat), di saat yang sama para guru mengingatkan mereka tentang hak dan kewajiban mereka dalam "demokrasi bebas".

Sementara itu Perdana Menteri Jean Castex menandai penghormatan bersama staf di perguruan tinggi Le Bois d'Aulne tempat Paty mengajar. Polisi menjaga gerbang sekolah menengah tersebut, yang tetap tertutup untuk siswa hingga Selasa (3/11).

Macron menggambarkan Paty sebagai "pahlawan pendiam" yang berdedikasi untuk menanamkan nilai-nilai Republik pada murid-muridnya dan perwujudan dari "keinginan Prancis untuk mematahkan keinginan para teroris".

Para guru di seluruh Prancis membaca surat yang ditulis untuk profesinya oleh Jean Jaures. Dalam suratnya politisi abad ke-19 itu mengemukakan peran para guru dalam membina warga muda.

"Mereka akan menjadi warga negara dan mereka harus tahu apa itu demokrasi bebas, hak apa yang diberikan kepada mereka, kewajiban apa yang dibebankan oleh kedaulatan negara kepada mereka," tulis Jaures.

Prancis telah mengerahkan tentara tambahan untuk melindungi tempat ibadah dan sekolah menyusul serangan lebih lanjut sejak pembunuhan Paty, termasuk di sebuah gereja di Nice dan serangan terhadap seorang pendeta di Lyon.

Pembunuhan mengerikan Paty mengguncang Prancis yang memang memiliki paham sekuler, tempat pemisahan antara gereja dan negara dipertahankan dengan keras oleh banyak orang. Ini juga mengungkap garis patahan yang membelah negara di mana sebagian Muslim melihat penggunaan hukum sekuler oleh pemerintah sebagai alat untuk menekan ekspresi keyakinan agama mereka.

Macron telah membuat marah umat Islam di seluruh dunia dengan menggambarkan Islam sebagai "agama yang mengalami krisis di seluruh dunia" dan membela kebebasan berbicara yang oleh sebagian orang dianggap menghujat atau menghasut.

Pada hari Senin (2/11), ribuan orang melakukan protes di luar kedutaan Prancis di Jakarta dengan membawa spanduk yang menyebut Macron sebagai "teroris sebenarnya".

Sementara di Bangladesh, para simpatisan Islam Hefazat-e-Islam (Pelindung Islam) menggunakan sepatu mereka untuk memukuli poster bergambar foto Macron saat ribuan orang melakukan aksi di kedutaan besar Prancis di Dhaka. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA