Pasalnya sejak pertempuran terbaru yang dimulai pada 27 September, militer Turki terus mengontrol aktivitas angkatan udara Azerbaijan.
Jurubicara Kementerian Pertahanan Armenia, Artsrun Hovhannisyan mengatakan, beberapa jet tempur F-16 Turki dilaporkan terus mengoordinasikan serangan UAV angkatan bersenjata Azerbaijan.
"Angkatan udara Turki terus mengontrol aktivitas angkatan udara Azerbaijan, khususnya dengan dukungan titik kontrol udara, 6 jet tempur Turki menemani UAV tempur buatan Turki dan israel untuk menyerang infrastruktur, saluran komunikasi, dan angkatan bersenjata Artsakh," kata Hovhannisyan.
"Tindakan ini dicegah oleh unit pertahanan udara Tentara Pertahanan," tambahnya dalam konferensi pers pada Minggu (11/10), seperti dikutip
Armen Press.
Hovhannisyan menyebut, pada Selasa (29/10), jet tempur F-16 Turki menjatuhkan jet Su-24 Yerevan di ruang udara Armenia. Insiden tersebut membuat sang pilot meninggal dunia.
Sejak 27 September pun, ia mengatakan, Turki bukan hanya memberikan dukungan militer dan politik, namun juga mengerahkan ribuan tentara bayaran untuk berperang melawan Artsakh.
Pada Jumat (9/10), Armenia dan Azerbaijan telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata atas dasar kemanusiaan yang dimediasi oleh Rusia di Moskow.
Namun, sejauh ini, gencatan senjata belum diimplementasikan dengan berbagai serangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
BERITA TERKAIT: