Raja Yordania Abdullah, Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi, dan Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi, menyetujui untuk meningkatkan hubungan di bidang kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan ketahanan pangan.
Dalam KTT yang dilakukan dengan mengedepankan jarak sosial di Bandara Internasional Queen Alia di pinggiran Amman, ketiga pemimpin membahas upaya untuk mengintegrasikan ekonomi ketiga negara.
Ketiganya sepakat untuk mencari solusi politik untuk konflik di dunia Arab saat mereka meresmikan aliansi mereka yang berkembang sebelum tahun 2021 yang penuh dengan tantangan untuk kawasan tersebut.
“Pertemuan kita hari ini sangat penting mengingat kondisi luar biasa saat ini di kawasan dan dunia,†kata Raja Abdullah, menyerukan tindakan bersama untuk menghadapi perkembangan pesat dan campur tangan asing di wilayah Arab, seperti dikutip dari Alkhaleej Today, Rabu (26/).
"Masalah Palestina tetap menjadi masalah inti di wilayah tersebut," kata Raja Abdullah.
Dia mengatakan Yordania terus menyerukan solusi dua negara yang mengakhiri pendudukan Israel.
El Sisi mengulangi pentingnya perjuangan Palestina, dengan mengatakan solusi dua negara akan berdampak positif pada seluruh wilayah.
Sementara Al Kadhimi menceritakan tentang keinginan Irak untuk hubungan yang seimbang dengan tetangga Arabnya, termasuk zona ekonomi bersama antara ketiga negara untuk memperdalam integrasi dan kerja sama ekonomi.
Perdana Menteri Irak itu menggarisbawahi bahwa, "Ikatan geografis dan historis antara tiga negara memberikan dasar yang kuat untuk membangun kemitraan ekonomi jangka panjang."
Ia menyoroti keinginan Baghdad untuk kerja sama baru di bidang perdagangan, investasi, energi, listrik, infrastruktur, transportasi dan perawatan kesehatan.
Menurut sumber resmi, Libya juga menjadi topik utama pertemuan bilateral tersebut. Peran Turki di Afrika Utara dan Suriah, Bendungan Renaisans Agung dan keamanan air serta hak-hak Mesir dan Sudan, dibahas tipsi-tipis dalam diskusi tiga pimpinan itu.