Menanggapi insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri India dalam pernyataannya, menyalahkan China yang berusaha untuk mengubah status quo.
India mengungkap, pertempuran darah tersebut bisa dihindari manakala China mematuhi perjanjian perbatasan kedua negara saat ini.
"Mengingat pendekatannya yang bertanggung jawab terhadap manajemen perbatasan, India sangat jelas bahwa semua kegiatannya selalu berada dalam sisi India dari LAC (Garis Kontrol Aktual)," ujar jurubicara Kemlu India, Anurag Srivastava merujuk pada perbatasan kedua negara secara de facto.
"Kami mengharapkan hal yang sama dari pihak China," sambungnya.
Dalam pernyataan tersebut, Srivastava juga menekankan kembali bahwa konflik perbatasan antara India dan China dibahas melalui saluran militer dan diplomatik.
Pada 6 Juni lalu, pimpinan militer kedua negara dilaporkan sudah bertemu dan menyepakati proses de-eskalasi. Di mana pertemuan tersebut pun akan diikuti dengan sejumlah pertemuan lainnya hingga mencapai konsensus tingkat tinggi.
Kendati begitu, ia mengatakan, pihak China juga tidak mematuhi konsensus LAC di Lembah Galwan.
"Kami tetap yakin akan perlunya menjaga perdamaian dan ketenangan di daerah perbatasan dan penyelesaian perbedaan melalui dialog. Pada saat yang sama, kami juga berkomitmen kuat untuk memastikan kedaulatan dan integritas teritorial India," tegasnya.
Ketegangan perbatasan antara India dan China sudah muncul selama lebih dari tujuh dekade. China selama ini mengklaim wilayah di timur laut India. Sementara itu, India mengklaim China menduduki wilayahnya di dataran tinggi Aksai Chin di Himalaya, termasuk bagian dari wilayah Ladakh.
BERITA TERKAIT: