Sekelompok narapidana menyandera tujuh orang penjaga penjaga penjara di Manaus, yakni ibukota negara bagian Amazonas.
Otoritas penjara melaporkan, tidak ada kematian akibat kejadian tersebut. Namun 10 penjaga dan lima narapidana mengalami luka, namun tidak kritis.
Mereka mengklaim, pemberontakan tersebut merupakan upaya melarikan diri yang gagal dilakukan oleh narapidana.
Namun sejumlah kerabat para narapidana yang berkumpul di luar penjara mengatakan, para narapidana memberontak karena kondisi yang buruk di dalam penjara, termasuk kurangnya makanan, tenaga dan perhatian medis.
Kondisi tersebut membuat para narapidana semakin rentan akan penularan virus corona atau Covid-19.
Dikabarkan
Channel News Asia, layanan kesehatan di negara bagian Amazonas sendiri saat ini tengah kewalahan menangani pasien virus corona.
Menurut otoritas setempat, virus corona bahkan telah menyebar ke dua lembaga pemasyarakatan alias pejara di Amazonas.
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Brasil soal kekhawatiran penyebaran virus corona di penjara.
Pemberontakan narapidana semacam ini merupakan hal yang marak terjadi di kawasan Amerika Latin selama beberapa waktu belakangan, karena kekhawatiran akan penyebaran virus corona di dalam penjara.
Pada akhir April lalu, narapidana di ibukota Argentina Buenos Aires naik ke atap penjara dan membakar kasur. Mereka mengatakan mereka menolak mati ketika dikurung.
Sementara di Peru, sembilan narapidana tewas dalam kerusuhan penjara di Peru awal pekan ini.
BERITA TERKAIT: