Pada Rabu (15/4), sejumlah orang sudah dengan mengenakan masker menuju tempat pemungutan suara (TPS). Wabah tidak menghentikan mereka untuk tetap memberikan haknya.
Pemerintah sendiri enggan untuk menunda pemilihan karena dianggap penting sebagai referendum untuk Presiden Moon Jae-in yang tengah dihadapkan kritikan mengenai tanggapannya terhadap krisis.
"Kami sedang melalui masa-masa sulit, tetapi virus corona dan politik adalah dua hal yang berbeda," ujar seorang pemilih bernama Lee Kum.
Penduduk Seoul lainnya, Chung Eun-young, mengatakan bahwa dia tiba di TPS tepat setelah pukul 6 pagi untuk menghindari keramaian.
"Saya khawatir dengan adanya virus corona," katanya seperti dimuat
AP.
"Mereka memeriksa suhu tubuh saya dan memberikan saya sarung tangan, tetapi tidak menyusahkan seperti yang saya kira. Saya tidak suka apa yang kita alami, tetapi saya memberikan suara untuk mencegah kandidat yang salah terpilih," tambahnya.
Partisipasi warga Korea Selatan dalam hal pemilu di tengah pandemik tampaknya perlu diacungi jempol.
Di sekitar kantor-kantor publik dan sekolah-sekolah yang menjadi TPS, antrean panjang yang berliku-liku terlihat sejak Jumat (10/4) dan Sabtu (11/4), sebagai pemilihan awal.
Pemerintah memang memperpanjang masa pengumungutan suara agar mencegah terjadinya penumpukan pemilih.
Komisi Pemilihan Nasional mengatakan sebanyak 15,6 juta orang telah memberikan suara pada jam 5 waktu setempat. Sementara itu, sebanyak 11,8 juta orang juga sudah mengikuti pemungutan suara awal.
Dengan begitu, jumlah pemilih secara keseluruhan hingga saat ini adalah 62,6 persen. Angka itu adalah yang tertinggi sejak pemilihan umum 2004 dengan 60,6 persen partisipan.
Guna menghentikan penyebaran virus saat pemungutan suara, stiker penanda jarak di siapkan di TPS. Petugas juga memeriksa suhu tubuh pemilih sebelum masuk.
Jika ada pemilih yang demam, maka akan diarahkan ke TPS yang terpisah. Pemilih juga diwajibkan menggunakan masker, menggunakan hand sanitizer dan sarung tangan plastik sekali pakai.
BERITA TERKAIT: