Pada pekan-pekan awal diberlakukannya social distancing hingga karantina mandiri, panic buying terjadi di supermarket-supermarket. Pada saat itu, yang diburu adalah tisu toilet, hand sanitizer, sabun, dan peralatan kebersihan lainnya.
Saat ini, berpekan-pekan setelah orang-orang tinggal di rumah, kebutuhan mulai bergeser.
Dikatakan oleh CEO Walmart, Doug McMillon di NBC's Today pada Jumat (10/4), fokus orang-orang mulai bergeser.
"Orang-orang mulai butuh untuk potong rambut sehingga anda mulai melihat lebih banyak pemangkas jenggot dan pewarna rambut dan hal-hal seperti itu," katanya.
"Sangat menarik untuk menonton permainan dinamis," sambung McMillon seperti dikutip
SCMP, Senin (13/4).
Tutupnya salon hingga pemangkas rambut untuk menghentikan penyebaran virus corona baru membuat orang Amerika tidak memotong rambutnya.
Selain barang-barang tersebut, produk-produk seperi permainan teka teki dan hiburan lainnya juga ikut diserbu, kata McMillon.
Berdasarkan laporan yang memonitor perilaku konsumen sejak wabah dimulai. Pada awal Maret, orang panik mengosongkan rak tisu toilet. Namun dua pekan kemudian, orang Amerika mengubah waktu luangnya untuk memasak dan membuat kue.
Pergeseran dari kebutuhan sanitasi ke persediaan perawatan hanyalah salah satu aspek dari bagaimana pandemik virus corona baru mengubah sikap konsumen, dan bagian dari apa yang diprediksi para ahli bisa menjadi perubahan permanen ke dunia ritel.
Data dari Universitas Johns Hopkins pada Senin menunjukkan, jumlah infeksi di AS sudah mencapai 555.398 kasus dengan 22.108 orang meninggal dunia dan 41.831 orang dinyatakan pulih.
Selain itu, data tersebut juga menunjukkan, sebanyak hampir 3 juta orang Amerika telah dites untuk Covid-19.
BERITA TERKAIT: